Tampilkan postingan dengan label Discuss. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Discuss. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Maret 2011

Buku : Kreativitas Tanpa Batas

feb 2011 | frans ari prasetyo

Louncing buku Kreativitas Tanpa Batas di GIM (by frankazoid)
"Kreatif" itulah slogan yang dalam beberapa tahun belakangan ini tersemat dalam diri kota Bandung. Bagaimana tidak pola-pola kreatif yang awalnya berasal dari wilayah individu kini masuk keranah wilayah industri dan politis. Sekarang ini banyak sekali aspek kehidupan terutama masyarakat Bandung yang sangat berkaitan dengan wilayah "kreatif" ini karena sudah menjadi hajat hidup orang banyak dengan beragam kepentingannya.

Bila dijabarkan lebih jauh, kreatif ini dilakukan dalam aktivitas yang continue menghasilkan sebuah value bernama kreativitas. Kreativitas ini dapat dipetakan menjadi beberapa fragmen dan dikaji/dilihat dari berbagai sudut pandang maka akan menghasilkan pandangan yang berbeda-beda dan mempunyai cirinya masing-masing, misalnya :

Kreativitas bila masuk dalam ranah psikologi, merupakan sebuah kemampuan alamiah dari otak kanan yang kemudian terasah oleh beragam disiplin ilmu yang dipelajarinya.Kreativitas bila masuk dalam ranah ekonomi , merupakan bentuk lainnya dari kapitalisme.

Kreativitas dilihat dari sifatnya, bila merupakan sesuatu yang murni hanya akan berkisar dalam wilatah akademik, sedangkan bila kreativitas merupakan sebuah terapan, maka merupakan sebuah instrumen dari sebuah mekanisme sosial-engineering dalam kehidupan sehari-hari.

Kreativitas dilihat dari kualitasnya, bila secara personal adalah bagaimana mengembangkannya dalam basis individu/internal. Tapi bila kreativitas merupakan kualitas secara kolektif, maka bagaimana sebuah kolektif/komunitas tersebut melembagakan kreativitas untuk menjadi nilai yang fundamental.

Kreativitas bila dipandang sebagai sebuah persoalan kognitif, maka hanya semata-mata terbentuk karena terbukanya akses pngetahuan dan informasi dan juga sebagai wadah pengembangan diri. Sedangkan bila kreativitas dipandang sebagai persoalan sosiologis, maka bagaimana mekanismenya untuk mengembangkan kreativitas itu sendiri yang ditandai oleh patologi sosial yang ada dimasyarakat itu sendiri. Misalnya bagaimana kreativitas bisa berkembang dalam masyarakat yang penuh dengan kontaminasi korupsi dll.

Kreativitas yang dilihat merupakan sebuah realisasi yang sporadis , maka ini menjadi sesuatu yang tidak mengikuti trend atau pola yang sedang berkembang. karena hal ini merupakan pilihan sendiri maka hasilnya atau dampaknya tidak berpengaruh dalam skala makro. Apabila kreativitas dilihat dalam kacamata realisasi yang sistemik, maka disini diperlukan desain yang manjur untuk bisa diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan, mengingat masyarakat Indonesia dewasa ini telah kehilangan kemampuan berfikir yang visioner.

Terakhir bila kreativitas dilihat sebagai elemen yang sinkronis, maka kreativitas disini hanya mengukur berdasarkan lintas periode, misalnya perbedaan antara aktivitas berpolitiknya politisi pada tahun 1945 sebelum dan sesudah kemerdekaan Indonesia dengan politisi yang berpolitik di era tahun 1990 sampai 2000an sebelum dan setelah masa reformasi. Tapi bila dipandang  kreativitas sebagai sesuatu yang diakronis, maka nilai kreativitasnya hanya dilihat dari prestasinya atau periodenya, misalnya kreativitas anak-anak yang yang mampu membuat sebuah software bidang tertentu yang diakui oleh publik diera informatika sekarang ini.Akhirnya , kreativitas dapat dijadikan modal sistemik sebagai langkah lebih lanjut dalam area aktivitas untuk bisa masuk dan berada diwilayah ekonomi makro.

Adalah Hudaya Latuconsina yang mencoba merangkum hal diatas dalam sebuah buku bertajuk "Kreatifitas Tanpa Batas : Menuju Ekonomi Kreatif Berbasis Insan Kreatif". Hudaya sendiri merupakan sosok yang selama ini dikenal sebagai mentor, fasilitator, trainer di bidang sumberdaya manusia bagi pegawai negeri sipil didaerah tempat dia bekerja di provinsi Banten. Dalam peluncuran bukunya kali ini terdapat narasumber lain seperti Benny Yohanes sebagai dosen dari STSI dan Guftaff H Iskandar sebagai penggiat kreatif di bandung melalui Commonrooms. 

Acara yang berlangsung di Gedung Indonesia menggugat dipenuhi oleh para undangan yang sebelumnya telah melakukan registrasi dan konfirmasi kedatangannya, karena mereka akan diberikan buku yang ditulis oleh Hudaya Latuconsina secara gratis sehingga tempatnya terbatas. Tapi dengan tidak melihat hal tersebut, masa yang hadir bisa dilihat dari berbagai elemen masyarakat, mulai dari akademisi, mahasiswa, praktisi, media dll yang sangat mengapresiasi kehairan buku ini sebagai tambahan wawasan dalam perspektif Hudaya latuconsina ketika memandang issue kreatif ini. Hal ini tentu saja sangat penting karena gagasan yang ditampilkan dalam buku ini dikaitkan dengan nilai-nilai religius disamping dengan teori-teori barat yang dipaparkan dengan gamlang. Setidaknya buku ini menjawab respon publik yang kreatif untuk tetap terus aktif berkreasi.

Mencandu Pagi di Sore Hari

feb 2011 | frans ari prasetyo

Menngenang Norvan "pecandu pagi" by frankazoid


Kali ini commonrooms memfasiliatisi sebuah tribute untuk mengenang Norvan Pecandupagi. Acara yang berlangsung disore hari sampai malam dan didalam ruangan terlihat agak janggal , karena esensinya kalau kita mengenang seseorang, maka kenanglah dia dari sisi yang paling dekat dan sering dia lakukan. Norvan sendiri merupakan orang yang sangat suka berkegiatan dipagihari, makanya dia selalu memberikan nama tambahan sebagai nickname dengan kata "pecandu pagi", tapi itu bukan sebuah kendala yang penting adalah bagaimana merespon seseorang tidak peduli tempat dan waktunya.

Acara yang mengetengahkan semua hal yang berkaitan dengan Norvan, mulai dari bermacam artwork berupa komik, lukis, desain, foto sampai catatan perjalanan hidupnya yang tersusun rapi menjadi sebuah memoar yang dokumentatif mulai dari masa kecilnya sampai waktu menjelang kematiannya. Ada beberapa orang yang agak terganggu dengan foto-foto Norvan ketika dalam kondisi sakit ditampilkan, mungkin karena memilki kedekatan emosional yang sangat karena mungkin dia merasa mengenal Norvan adalah pribadi yang sehat, ceria dan banyak tersenyum bukan pribadi yang terpampang dalam foto-fotonya ketika sakit.

Acara ini juga dimeriahkan oleh beberapa performance, seperti pertunjukan musik dari Karinding attack,ferry curtis, handoko, the baretto dan superabundance yang dilengkapi dengan pembacaan puisi dan pemutaran video. Acara yang berlangsung mulai pk.16.00 wib diawa dengan pembukaan pameran karya-karya norvan dan juga diadakan acara diskusi tentang kanker yang disampaikan oleh yayasan kanker indonesia. Hanya sekedar mengingatkan Norvan meninggal karena kanker. Semua keluarga Norvan hadir dalam acara ini termasuk istri dan anaknya. Disini terlihat bahwa banyak orang yang mengenal norvan secara Mikro tapi kurang mengenalnya secara Makro, karena Norvan sendiri tidak begitu menyukai aktivitas yang besar tapi sangat menyukai aktivitas yang kecil dengan melibatkan orang-orang terdekatnya saja,tapi hal itu bukan masalah karena dalam acara ini sangat nampak sosok Norvan dalam koridor mikro.

Tanggapan beberapa teman yang datang, mulai dari yang tidak mengenalnya, hanya mengenal komiknya saja, hanya tahu norvan dalam wilayah mikro sampai yang memilki kedekatan personal sampai ke wilayah makro memberikan tanggapan beragam, antara lain : 
"sayang , masih muda dan potensial tapi sudah dipanggil yang maha kuasa" 
"acaranya keren, padaha saya tidak terlalu kenal Norvan hanya baca komiknya saja, tapi melihat pamerannya seolah saya sudah mengenal Norvan "
"acaranya kaya bukan merepresentasikan sosok Norvan, seolah semua orang merasa dekat dengan dia ketika sudah meninggal....kemana aja ketika Norvan masih hidup!"
"mengenang pecandu pagi tapi acaranya sore hari, kalau mengenang mah minimal sesuai dengan slogannya"

Beragam komentar ini sangat wajar mengingat Norvan berada dalam berbagai komnitas dan aktivitas yang mengenal banyak orang dengan karakternya masing-masing. Yang pasti dengan ini minimal publik tahu bahwa ada seorang teman kita yang aktif berkarya tapi meninggal karena sakit kanker diusia muda yang sangat merindukan pagi hari......

Selamat Jalan teman

pembukaan pameran karya-karya Norvan "pecandu pagi" by frankazoid
pembukaan pameran karya-karya Norvan "pecandu pagi" by frankazoid

Peringatan 3 thn tragedi AACC & peluncuran buku "MELAWAN LUPA"

feb 2011 | frans ari prasetyo

do'a bersama mengenang tragedi AACC by frankazoid
9 Februari,3 tahun lalu merupakan moment yang tidak akan pernah terlupakan dalam sejarah perkembangan musik underground khususnya di Bandung dan umumnya di Indonesia bahkan dunia. Bagaimana tidak, kabar tentang kejadian ini tersiar secara nasional bahkan sampai masuk ke berita internasional dan membuka mata publik tentang komunitas underground di Bandung.

Tragedi yang menewaskan 11 orang yang sedang menikamati sebuah acara musik underground dalam format launcing album sebuah band bernama "biside" mencengangkan banyak pihak. Banyak spekulasi yang terjadi, tapi yang pasti ini merupakan pelajaran sangat berharga bagi semua pihak untuk disikapi secara positif.

Commonroom, melalui Solidaritas Independent Bandung (SIB) mengadakan sebuah acara peringatan untuk mengenang korban tragedi tersebut untuk sekedar mengingatkan kembali bahwa mereka itu merupakan bagian dari komunitas sangat besar dari underground di Bandung dan layak untuk diingat sebagai tonggak keberadaan underground itu sendiri diantara masyarakat Bandung. Tonggak yang dijadikan acuan untuk introspeksi, memperbaiki dan belajar untuk bagaimana underground ini berkembang menjadi sebuah wilayah alternatif sub-culture dalam perkembangan aktivitas youth culture. 

Acara yang mulai sekitar pk. 19.00 ini selain mengundang semua kalangan dari berbagai komunitas tapi didominasi oleh komunitas underground itu sendiri, walaupun mereka berasal dari sub-komunitas yang berbeda-beda. Ciri khasnya cukup jelas , semua berpakaian hitam. Selain itu juga SIB mengundang para keluarga korban tragedi ini walaupun tidak hadir semua karena berbagai hal tapi minimal sudah mewakili karena selain acara do'a bersama ada juga acara launcing buku "melawan lupa" yang ditulis oleh Kimung salah satu penggiat dikomunitas Ujung Berung dan Bandung Oral History 

Kimung dalam bukunya ini secara implisit ingin mengingatkan kembali bahwa kita tidak boleh berpaling dari sejarah yang membentuk kejadian di hari ini maupun masa depan, maka kita harus "melawan lupa" dan terus mengingatnya untuk menjadi sebuah informasi berguna , contoh nyatanya adalah  Tragedi AACC ini. Maka dari itu peringatan ini adalah sebuah simbol penghormatan dan penghargaan atas sebuah keyakinan yang dibawa sampai mati, dan kita harus tetap mengingatnya sebagai salah satu bagian sejarah kota Bandung ini. Semoga kejadian seperti ini tidak akan pernah terulang kembali, tapi semangatnya harus tetap dijaga dengan melawan untuk tidak lupa.

Amin....Amin...Amin

Peluncuran buku Melawan lupa by frankazoid

Barbara Strum di Asbestos

des 2010 | frans ari prasetyo

Screening and discuss with Barbara Strum by frankazoid

Asbestos space kali ini menampilkan sosok Barbara Strum seorang seniman performance dan kurator senirupa yang berkesempatan hadir untuk berbagi pengalamannya dengan para pelaku seni di bandung khususnya.Barbara sendiri dikenal dikalangan seniman performance sudah cukup lama, walau pun dia bertempat tinggal di Basel-swiss, tetapi karena aktivitas kesenimanannya yang lintas tempat,lintas negara dan lintas disiplin menjadikan sosoknya sangat diperhitungkan di dunia performace internasional.

Ada hal yang menarik sebelum Barbara melakukan persentasi dari beragan kegiatannya yang dia lakukan selama ini baik secara perseorangan maupun secara kolektif. Kita semua yang hadir disuruh memperkenalkan diri masing-masing dengan segala aktivitasnya. Walaupun yang hadir hanya beberapa orang saja, tidak mempengaruhi antusias teman-teman untuk merespon tentang apa yang dipersentasikan oleh Barbara.

Dalam beberapa karyanya, Barbara bersama teman-temannya sedang melakukan performance dengan latar belakang pengunungan Alpen -Swiss. Kalau melihat aksinya, banyak orang akan mempunyai pendapat berbeda karena banyak issue yang bisa di munculkan dalam project performancenya kali ini. Dengan  berlatar belakang pengunungan, sungai dan pohon-pohon, maka akan menimbulkan beragam asumsi. Contohnya saya, dengan melihat aktivitas semacam itu yang didukung oleh setting latar belakang panorama alam ini membuktikan sebagai sebuah kritik para aktivis lingkungan, tapi barbara bersama teman-temanya tidak berfikir sampai kearah sana, ini hanya sebuah performance dalam merespon alam.

Hal yang berbeda juga dirasakan oleh salah satu teman yang hadir dalam diskusi ini, dia merespon tentang video performance yang mengeksploitasi tubuh sebagai ruang performancenya. Dia sangat tertarik untuk berdiskusi langsung dengan Barbara, karena dia melakukan hal yang sama dengan yang ada di video tersebut, selain itu dia juga dalam kesehariannya berlaku senagai seorang transgender. Maka obrolan pun berlanjut ke wilayah gender dan sekelumit problematikanya sampai ke issue yang paling sensitive sekalipun didiskusikan dengan cara yang santai tapi cerdas.

Kedatangan Barbara , kali ini memberikan value yang lebih bagi teman-teman di Bandung dan tentu saja menjadi sebuah pembelajaran baru bagi Barbara tentang masyarakat Indonesia. Hubungan yang mutual ini semoga meretas komunikasi yang intensif untuk memunculkan kemungkinan-kemungkinan baru yang bisa dalakukan bersama dimasa depan.




Tribute To Widji Thukul

des 2010 | frans ari prasetyo

Performance Dedi koral dalam Tribute to widji thukul by frankazoid
Widji Thukul, siapa yang tidak kenal lelaki kelahiran desa Sorogenen Solo- Jawa Tengah 47 tahun lalu ini.  Hampir mayoritas seniman,sastrawan,aktivis,politikus sampai kalangan mahasiswa di negeri ini sangat mengenal sosok ini Walaupun dia lahir dari keluarga yang kurang mampu sehingga putus sekolah. Sepak terjangnya dalam  mengkritik pemerintah orde baru melalui puisi-puisinya menjadikannya sebuah ikon baru dalam dunia pergerakan dan aktivisme.

Widji Thukul memulai gerakan aktivismenya melalui ranah senirupa dan sastra, keterlibatannya diawal tahun 1990an dalam organisassi Jakker (jaringan kerja kesenian rakyat) yang merupakan anak organisasi dari PRD (partai rakyat demokratis) yang notabene merupakan partai oposisi yang didirikan oleh kaum muda yang sangat vokal dalam mengkritisi sepak terjang pemerintahan orde baru. Akibat dari berragam aksi yang dilakukannya, Widji Thukul menghilang ditahun 1998 sampai sekarang.

Tribute yang dilakukan kali ini untuk mengenang dan menteladani atas apa yang dilakukan oleh Widji thukul  dalam mempertahankan atas apa yang diyakininya sampai akhirnya menghilang seperti ditelan bumi bersama prinsip dan keyakinannya . Tribute yang dilaksanakan diCommonrooms ini melibatkan banyak pihak, mulai dari   seniman musik , performance, instalasi sampai pembaca puisi dan yang hadir pun dari berbagai kalangan. Terlihat Dedi koral, Tisna sanjaya, Wawan sofwan, Abah JPK, Morgue vanguard dll mencoba merespon tentang keberadaan widhi thukul dan karyanya dalam gerakan aktivismenya diera rezim orde baru dinegeri Ini.


Poster tribute to widji thukul

Kapitalisme-Perspektif Sosio Historis

Okt 2010 | frans ari prasetyo 

Louncing Buku di GIM by frankazoid

Ultimus sebagai penerbit yang cukup produktif dalam menerbitkan buku-buku berkualitas kembali menerbitkan buku KAPITALISME-Perspektif Sosio-Historis yang ditulis oleh Dede Mulyanto. Peluncuran yang berlangsung di Gedung Indonesia Menggugat dihadirkan dalam format diskusi publik.

Acara yang dimulai sekitar pk.16.00 mendapatkan antusias publik yang cukup luas, mulai dari kalangan mahasiswa ,akademisi, politikus, aktivis sampai jaringan komunitas dan jaringan media yang tertarik tentang issue yang ditulis oleh Dede mulyanto. Kalangan mahasiswa yang mungkin didominasi oleh mahasiswa dari Universitas padjajaran dimana Dede mulyanto mengajar bidang kajian antropologi. jaringan akadh pasti karena ini merupak sebuah karangan ilmiah sidah pasti menarik perhatian akademisi lain yang tertatik tentang issue dalam buku ini sebagai source baru dalam pengembangan secara akademik.

Sedangkan dari kalangan politikus ada beberapa yang hadir akibat dari undangan pihak Gedung Indonesia Menggugat mengingat tempat ini adalah salah satu tempat yang memiliki nilai historical-politis yang berpengaruh dalam sejarah politik Indonesia, karena di tempat ini Presiden Indonesia pertama -sukarno tahun 1930 dituntut dalam sebuah pengadilan. Dari jaringan komunitas dan media yang saya lihat ada teman-teman dari jurnal apokalips dan dari media Rumah kiri yang ada kemungkinan diundang oleh Ultimus karena memang kedua komunitas ini sangat dengat dengan ultimus dan sering mengadakan kegiatan di Ultimus.

Dede Mulyanto sendiri dikenal sebagai salah satu dosen antropologi Universitas padjajaran dan pernah bekerja di yayasan akatiga (pusat penelitian analisis sosial bandung), ada beberapa buku yang sudah pernah dia tulis, antara lain Jurnal analisis sosial dan jurnal masyarakat dan Budaya yang diterbitkan oleh LIPI (lembaga Ilmu pengetahuan Indonesia). selain itu juga  ada buku Usaha kecil dan Persoalannya di indonesia (2006) dan kapitalisasi dalam Penghidupan Pedesaan (2008) yang keduanya diterbitkan oleh akatiga.

Dalam bukunya kali ini Dede Mulyanto mencoba membedah tentang kapitalisme yang dalam  dewasa ini menjadi sistem perekonomian yang dominan yang sangat mempengaruhi semua kegiatan produksi, distribusi , pertukaran dan konsumsi barang dan jasa dalam usaha pemenuhan kebutuhan hudup sehari-hari. karena begitu dominannya , kapitalisme tidak hanya tampak rasional tapi juga alamiah sehingga sudah menjadi bahasa yang universal.

kapitalisme menjadi sebuah panduan untuk mendefinisikan banyak hal, susunan keluarga yang sesuai, nilai sosial yang layak dituju dalam hidup, hal yang layak diperjualbelikan, lembaga pendidikan yang baik, sistem politik dan lainnya sebagai sebuah indikator.

Tapi ada pernyataan yang menarik dari salah seorang teman bernama sadikin yang saya kenal sebagai orang yang aktiv di jaringan media Rumah kiri dan pernah bekerja di akatiga .  " Bagaimana menyikapi kapitalisme di pergerakan dimasyarakat yang sebenarnya, action nya bagaimana ? , dan bagaimana meng-counter kapitalisme itu sendiri secara praktis untuk sekarang ini ?". 

sebenarnya pernyataan-pernyataan ini sebagai akumulasi dari pertanyaan-pertanyaan yang mendasar tentang apa itu kapitalisme? bagaimana terciptanya kapitalisme dan lainnya yang menjadi kunci memahami kapitalisme, karena bagaimanpun berubahnya tampilan kapitalisme terdapat dua ciri mendasar yang belum berubah, begitu menurut Dede Mulyanto dalam kutipan bukunya ini.

"Sadar Bencana Sejak Dini!!"

Nov 2010 | frans ari prasetyo

Pameran beberapa karya anak-anak di garut korban bencana (by frankazoid)
IOM (international organization for migration) sebuah organisasi yang bekerjasama dengan european commission untuk program humanitarian Aid, mengadakan program "sadar bencana sejak dini". ini merupakan moment penting untuk sesialisasi ke masyarakat tentang issue ini mengingat akhir-akhir ini Indonesia dilanda benncana alam yang terus menerus.

Program ini dikemas dlam format diskusi publik yang diselenggarakan di Commonrooms dengan pembicara Dr.eng.Imam achmad sadisun ST,MT dari pusat Mitigasi bencana ITB dan Ir.gatot M Soedrajat dari pusat vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) IOM untuk jawa barat.

Acara yang dimulai sekitar pk.16.00 dibuka dengan pembukaan pameran gambar anak-anak sekolah dasar di garut selatan dengan tema "Pengalamanku dengan Bencana". Dipilihnya anak-anak dari garut selatan sebagai contoh bukan tanpa sebab, karena daerah garut pernah terkena bencana alam gempa bumi.

Dalam diskusi publik ini , menyuguhkan tentang kesadaran dan pengenalan bencana sejak awal dan bagaimana untuk siap siaga dalam usaha penanganannya dan apa saja yang bisa dilakukan oleh kita. Disini juga disebarkan dalam bentuk flyer berisi gambar-gambar kartun yang menjelaskan tentang bagaimana atau apa yang harus kita lakukan kalau terjadi gempa bumi, mulai dari sebelum terjadi gempa, saat gempa dan sesudah gempa.

Sosialisasi dengan melakukan kegiatan seperti ini sangat diperlukan untuk menambah pengetahuan masyarakat tentang bencana alam dan untuk meminimalisir kerugian material dan inmaterial yang terjadi ketika bencana datang, mengingat kejadian bencana alam tidak bisa prediksi kedatangannya.

ArtePolis # 3

July 2010 | frans ari prasetyo

Transmediale memberikan sambutan dalam ArtePolis 3 (by frankazoid)

ARTE POLIS seolah telah memiliki image tersendiri dimata publik Bandung. Acara yang merupakan agenda dua tahunan ini telah berlangsung untuk ketiga kalinya. Bertempat di Gedung Merdeka , Museum Konferensi Asia Afrika ini seolah menegaskan bahwa seharusnya Bandung dikenal juga sebagai kota Konferensi bertaraf International. 

Hal ini dibuktikan dengan terselenggaranya Arte Polis#3. Kali ini pelaku kreatif dari berbagai negara  dikumpulkan untuk saling berbagi dan belajar dari pengalaman kreatif pada pemaknaan suatu tempat/ruang publik. Adanya komunikasi yang mutual dalam berbagi pengetahuan dan pengalaman secara internasional dan lokal berkaitan isu-isu terkini, kasus-kasus best practice dan implikasi kebikjakan dan kolaborasi kreatif pada pemaknaan tempat/ruang tadi.

Terdapat banyak sesi paralel didalamnya mulai dari isu arsitektus, lingkungan, kewirausahaan, senibudaya, media dan IT sampai pengembangan kebijakan yang strategis yang kesemuanya berkaitan satu sama lainnya. Disini diutamakan 'bagaimana kolaborasi kreatif yabng dapat diwujudkan dari elemen-elemen isu diatas untuk mencapai goal yang diinginkan dan ideal bagi masyarakat sipil khususnya.

Di hari terakhir konferensi terdapat sesi dimana teman-teman yang tergabung dalam Expert Meeting termasuk saya  yang bersalngsung dalam prongram yang  berbeda , yaitu Nu Substance diundang untuk memberikan pemaparan hasil selama lima hari dari expert meeting ini . hal ini kemudian dihubungkan karena  memang kebetulan isu yang disampaikan sangat relevan dengan acara Arte Polis ini.

Hasil dari meeting kemudian digulirkan di round table Arte Polis yang kemudian terumus sebuah rujukan yang kemudian dideklarasikan ketika acara penutupan Arte Polis sebagai strategi dan rekomendasi kebijakan dibidang pemanfaatan teknologi bagi pemberdayaan masyarakat sipil dan lingkunga secara berkelanjutan. Dan juga menghasilkan sebuah flatform yang dapat mendukung terjadinya kolaborasi dan kerjasama yang mutual dengan tanpa batas diantara komunitas masyaralat sipil dengan melibatkan beragan disiplin ilmu yang berbeda.

Peserta ArtePolis 3 (by frankazoid)

Peserta ArtePolis 3 (by frankazoid)

Public Persentation by Wen Yau (Hongkong)

July 2010 | frans ari prasetyo

Persentasi Wen Yau di asbestos (by frankazoid)

Program Asbestos kali ini menawarkan sebuah rujukan persentasi dari Wen yau (peneliti dari Hongkong), awalnya ada kaitan apa antara Asbestos dan project penelitia yang dilakukan oleh Wen Yau. Ternyata berhubungan dengan seni Pertunjukan (performance art). Wen Yau sendiri merupak seniman performance dari Hongong yang sesdang melakukan research tentang mapping performance di Indonesia , hanya 3 kota yang menurutnya cukup representative mewakili data resarchnya yang hanya berlangsung selama 2 minggu, yaitu Bandung , Yogyakarta dan Jakarta.

Penunjukan Asbestos sebagai partner bukan tanpa sebab, karena Mini fadmi dan W cristiawan sebagai inisiator dari Asbestos merupakan pelaku aktif dalam seni pertunjukan di Bandung khususnya. Ini merupak program pertukaran peneliti antara Indonesi dan Hongkong melalui kerjasama antara IVAA yang berada di Jogyakarta dan AAA yang berada di Hongkong. Keduanya merupakan lembaga yang bergerak dibidang pengarsipan data mengenai segala hal yang berkaitan dengan seni-budaya.

Dalam persentasinya, Wen You banyak memaparkan bagaimana kondisi performance art di Hongkong. Beragam tema yang diusung oleh para seniman performance di Hongkong tiap tahunnya menunjukan eskalasi medan sosial-politik-cultural yang sedang mereka alami.
Contohnya ketika pengambilalihan Hongkong dari Inggris kembali ke Cina tahun 1999, terjadi pergolakan hebat yang terjadi baik di pemerintahan maupun dimasyarakat civil. Seniman performance meresponnya dengan beragam cara.

Beberapa teman seniman Wen You yang duiperlihatkan dalam slide persentasinya banyak terlibat dalam beragam aktivitas activism. Ini menandakan posisi performance art dapat dikaitkan dengan aktivitas gerakan sosial, agak berbeda dengan di bandung, hanya sedikit seniman performance yang bersama-sama para aktivis melakukan kegiatan bersama. semoga ini menjadi contoh dan pembelajaran bagi kita, bahwa dengan beragam disiplin dapat merumuskan sebuah tujuan bersama.

Diskusi dengan wen yau di asbestos (by frankazoid)

JAZZ dan Pencitraan

July 2010 | frans ari prasetyo
Syahrini dalam pembukaan pameran  foto Jazz&Pencitraan (frankazoid)
Syahrini dalam pembukaan pameran  foto Jazz&Pencitraan (frankazoid)
Membaca sejarah kehadiran musik jazz di dunia, tentunya akan menemukan rentetan cerita baik bersifat oralis, textual maupun visual dari para pelakunya dan segenap atribut pendukungnya, seperti penulis, fotographer, sound engineering, crew dan lain-lain. Begitu pun yang terjadi di Indonesia, tentunya sebagai musik serapan, jazz memiliki ruang yang tersendiri boleh dikatakan memiliki eksklusivitasnya sendiri. Hal ini sangat wajar karena awalnya menyusupnya jazz keIndonesia hanya dapat diakses oleh kalangan tertentu, itu yang membuat jazz kurang begitu populer di Indonesia.

Rentetan cerita tersebut akan menjadi catatan historis yang ingin MIa Damayanti bangun dengan karya-karya foto dokumentasinya tentu saja tentang Jazz di Indonesia khususnya di Bandung. Selama satu tahun terakhir Mia menggunakan sisi visual fotografi dalam memetakan orang-orang yang aktiv dalam menggeluti musik jazz ini. 

Foto-foto yang ditampilkan memiliki kecenderungan foto panggung dimana para musisi sedang menunjukan aksi performancenya di hadapan audiencenya. Dalam sebuah pameran tunggal sangat wajar bila ini menjadi satu kaitan tema maupun satu kaitan visual.

Dengan tajuk Jazz : Poster & Post It, merupakan sebuah upaya Mia bersama Klab Jazz untuk membangun dan menambah infrastuktur pemahaman publik mengenai musik jazz, pelaku dan atributnya secara visula fotografi. Bekerja sama potluck yang menyediakan akses tempat berlangsungnya pameran ini dan Yonas sebagai partner pembuatan cetak fisik dari visual yang ditampilkan serta Air photografi yang secara konsisten menjadi salah satu elemen yang progresif menangani fotografi khususnya diBandung. Ditambah beragam media radio seperti Radio Sky, KLCBS, Mara dan Rase yang mendukung terselenggaranya pameran ini, keberadaan radio ini sangat penting , karena bahasa musik jazz khususnya tidak bisa dilepaskan dari peran-peran radio diatas, secara mereka memilikiprogram memutar lagu-lagu beraromakan Jazz.

Pameran yang diawali oleh oblolan santai yang di gagas oleh Nikman sebagai penggiat di Klab Jazz dan Galih Sedayu sebagai penggiat photografi, menariknya terdapat sosok Syahrani sebagai salah satu penyanyi Indonesia yang sudah identik dengan aroma jazz. Obrolan yang diikuti oleh sekitar 20 orangan itu berlangsung santai dan tik-tok saling menanggapi karya yang disajikan maupun berbagi pengalaman diaspek fotografi. 
Obrolan yang ditutup dengan penampilan duet antara Syahrani dengan Imelda Rosalin dan selanjutnya menjadi area 4peniti untuk unjuk gigi membuat atmosfer Jazz di Potluck semakin kental.

Minggu, 13 Maret 2011

Vacation Program : Persentation by Emily Cornor, Woodcraft-UK

Jul 2010 | frans ari prasetyo





Jendela ide kembali menjadi partner untuk memfasilitasi program pertukaran kebudayaan. Kali ini Emily Cornor dari Woodcraft-UK melakukan program vacationnya di Jendela Ide dengan memaparkan games dan Persentasi.Sedangkan dari Jendela Ide menampilkan Musikal drama dari  Jilly-Aliya-Riri-Gendis yang diiringi karya The birth of Hanoman dengan Composesd by Bintang Manira.

Acara ini sebagai ajang pertukaran ide, sharing pengalaman, dan unjuk kebolehan tanpa ada rasa guru dan menggurui , tanpa ada perbedaan secara historis dari masing-masing personal. Semua berbaur dan saling melengkapi dalam suasana yang kekeluargaan khas masyarakat Indonesia yang diperkuat lagi oleh ceremonial Ulang Tahun ke-5 dari Julian, salah satu pemain Djembe anak-anak dari Jendela Ide.




Buku Cello

Jun 2010 | frans ari prasetyo


Cukup lama Studio Jeihan tidak membuat acara yang bersifat publik, setalah terakhir berupa pameran lukisan para wartawan yang berdomisili di Bandung. Acara kali ini merupakan acara bersama antara Studio Jeihan dan Baca-Baca yang menjuguhkan sebuah peluncuran buku Cello karya Waluya DS. Acara yang berlangsung di Pendopo Studio Jeihan ini  dihadiri oleh penulis buku Cello yang akan di ”lounching” Bpk. Waluya DS beserta keluarga dengan narasumber Bpk. Jacob Soemarjo dan Matdon sebagai Moderator. Orang-orang yang datang dalam diskusi dan peluncuran buku Cello ini merupakan para kerabat dekat dan para kolega yang memiliki keterkaitan jaringan sosial berdasrkan kapasitas dan aktivitasnya.

Kehadiran mereka dari berbagai kalangan baik yang satu profesi atau bukan memperlihatkan posisi sang penulis, pemilik tempat, narasumber dan moderator diwilayah sosial mereka. Motif kedatangannya beragam, ada yang memang ingin mengapresiasi dan memikuti diskusi, ada yang meliputnya sebagai berita, atau bahkan ada yang hanya sebagai ajang sosialita atas etos pertemanan untuk hadir di sebuah acara .

Secara keseluruhan peluncuran buku ini patut disambut hangat dari berbagai kalangan. Dengan semakin produktifnya para penulis meluncurkan karyanya , maka secara tidak langsung menambah koleksi keragaman karya diIndonesia terutama karya sastra sebagai karya bahasa yang merupakan salah satu garda depan identitas sebuah Bangsa. Semoga peluncuran buku ini menjadi cambuk inspiratif bagi semua yang hadir untuk produktif menciptakan sesuatu yang berguna bangi dirinya, orang lain dan tentu saja bangsanya.

Mengapa LSM menyebalkan ?

Jun 2010 | frans ari prasetyo

Poster
Tema diskusi yang cukup kritis dan cenderung kasar, mungkin ini sikap emosional yang terpendam untuk kemudian mencoba diletupkan dalam forum diskusi ini. Benar saja sebuah acara diskusi yang digagas oleh komunitas Rumah Info Dandelion seakan mempertemukan suatu letupan dengan letupan lainnya tanpa saling mengganggu tetap menyenangkan dan mesra.

Rumah Info Dandelion sendiri memposisikan dirinya sebagai salah satu pusat informasi gerakan-gerakan kultural berbasis akar rumput (grassroot) di Bandung khususnya dan di Indonesia umumnya. hal ini terlihat dari beberapa teman-teman yang hadir dalam diskusi ini selain mereka datang mewakili personal, tetapi karena posisi dan aktivitasnya mereka dalam masing-masing komunitas menegaskan tentang siapa mereka. Acara diskusi ini dihadiri oleh kawan-kawan mantan "pekerja" LSM, Komunitas Punk P.I, Food Not Bombs Bandung dan Balai Kota Collective, selain itu acara ini disemaraki oleh kehadiran kawan-kawan dari Kulon progo (Jawa Tengah). 

Forum Diskusi ini membahas bagaimana metode kerja dari LSM , yang akhirnya menjadi sesuatu yang "menyebalkan" ?, serta bagaimana para "funding" bergerak untuk men-supply dana bagi para-LSM. Diawali dengan cerita pengalaman kawan-kawan yang pernah bekerja di sebuah LSM lalu cerita bagaimana LSM dan lembaga sejenis serta para fundingnya mencoba masuk kewilayah Kulon Progo, dan bagaimana reaksi masyarakat setempat. Seperti yang mereka tuliskan dalam paparan deskripsinya menyebutkan bahwa " NGO adalah agen kepentingan neoliberalisme merupakan kritik tajam pada LSM-LSM yang banyak justru tenggelam dalam mainstream kepentingan imperialisme yang sadar dan tidak sadar justru meredam kemungkinan perlawanan rakyat yang saat ini mulai geram " . Intinya perubahan dalam tatanan sosial dan struktural sudah tidak mungki lagi terjadi semua telah dikendalikan oleh sebuah agenda, hanya tatanan personal yang masih mungkin memberikan warna yang berbeda, tapi itu tergantung masing-masing individunya dan goalnyapun akan beragam.

Diskusi di dandelion by frankazoid


Sabtu, 12 Maret 2011

UDJO NGALAGENA : Diplomasi Bambu

March 2010 | frans ari prasetyo

Diskusi tentang buku Diplomasi Bambu (by frankazoid)



"Kejarlah apa yang tertinggal, isilah apa yang belum terisi " (Udjo Ngalagena, 1992)

Itulah sedikit cuplikan kalimat yang terlontar dari Udjo Ngalagena yang akhirnya menginspirasi banyak orang. Ini menjadi konsep kebebasan berekspresi yang dituangkan oleh Udjo Ngalagena dengan angklungnya. Ngalagena itu sendiri merupakan istilah ketelanjangan, kebebasan dan keterbukaan. Kalimat diatas merupakan cuplikan dari isi buku Diplomasi Angklung yang ditulis oleh Sulhan Safi'i. Melihat minimnya artefak textual yang dimiliki oleh Saung Angklung Udjo terlebih karakter personal Udjo Ngalagena itu sendiri maka terbitlah buku ini.

Buku Diplomasi Angklung ini menjadi kajian textual yang cukup komprehensif tentang posisi Udjo Ngalagena dalam membangun karakter pribadinya untuk kemudian ditransformasikan dalam identitas bangsa melalui seni budaya Angklung. Posisi Udjo Ngalagena dengan Angklungnya membawanya dalam ranah politik identitas dimana proses diplomasi yang dilakukannya menyebrang kewilayah global. Kemampuannya dalam mentransformasikan budaya Angklung sebagai bagian dari identitas bangsa Indonesia khususnya identitas masyarakat Sunda akan sangat sulit didefinisikan dalam wacana teoritis barat, karena disana terdapat nilai kearifan lokal, konten sejarah bahkan sampai wacana mistis yang hanya bisa dipahami oleh kultur lokal itu sendiri, minimal dengan tetap melestarikannya.

Apa yang dibangun oleh Udjo Ngalagena dengan Angklungnya sehingga menjadi sebuah wacana hubungan diplomasi antar kalangan didunia global dengan karakter personalnya Udjo sendiri sebagai seorang individu yang keras kepala, nyentrik, Visioner dan humanis. Apa yang ditawarkan Udjo Ngalagena kalau boleh saya sebut adalah sebuah "Self Image Branding is a product of political character tension" dimana Udjo Ngalagena sadar betul tentang siapa dirinya. Ya, minimal dapat terekam secara textual dalam buku ini yang diperkuat oleh rekaman visual berupa fotografi yang dipamerkan bersamaan dengan peluncuran buku ini.

Pamali 2 louncing diBaca-baca

feb 2010 | frans ari prasetyo


Launcing buku Pamali 2 karangan Norvan Pecandupagi (kanan) 


Buku Pamali 2 kembali terbit setelah menunggu kurang lebih selama 4 bulan dari peluncuran Buku pamali 1.Apablia sebelumnya pada louncing Pamali 1 berlangsung di sebuah pusat keramaian Jakarta, maka kali ini ini sesuai permintaan Kak Norvan selaku penulis/pengasuh dalam buku Pamali ini berlangsung disebuah alternatif space yang selama ini menjadi destinasi Kak Norvan dalam proses berkaryanya, yaitu BacaBaca Bookmart/Perpustakaan.yang jauh dari keramaian pusat kota Bandung, tepatnya di Studio2 Jeihan , Padasuka Bandung dan acara yang berlangsung pada hari selasa tanggal 16 Feb 2010 yang notabene hari aktif. Ini merupakan event pertama BacaBaca Bookmart di tempatnya yang baru setelah "terusir" dari Sabuga diawal tahun 2010.

Pamali ! ada apa dengan kata ini ? dan kenapa orang seperti Kak Norvan sangat antusias membukukannya ?, ternyata terdapat hal yang menarik dari Pamali itu sendiri. Pamali sebenarnya sebuah "mitos pantangan" yang diturunkan secara oralis dari nenek moyang kegenerasi selanjutnya untuk terus dilestarikan keberadannya walaupun seiring perkembangan jaman , terdapat beberapa yang ternyata sudah tidak relevan lagi.

Pamali ini berkembang dalam kultur masyarakat indonesia dan dalam ranah Sunda konteks pamali ini berakar cukup kuat, mungkin karena Kak Norvan sendiri tinggal dilingkungan berkurtur sunda sehingga Pamali 1 dan 2 banyak didominasi oleh Pamali dalam kultur Sunda , tapi sudahlah mungkin ini menjadi bahan masukan untuk Kak Norvan dalam mengexplorasi khasanah Pamali dalam cakupan yang lebih luas - Indonesia.

Buku pamali 1 dan 2 yang dikemas dalam wujud komik dengan plesetan dari kontent pamalinya itu sendiri yang ditafsirkan secara liar oleh Kak Norvan dengan tanpa mengurangi nilai ke-mitos-an dari pamalinya itu sendiri. Acara yang cenderung privat ini hanya dihadiri oleh teaman-teman dekat dari Kak Norvan dan Baca-baca, ini sesuai harapan begitu katanya disela-sela oblolan ringan yang dipandu oleh Onjel (penulis buku bad religion) dan Pa Bagus selaku pengamat buku, sebelumnya acara dimulai dengan pembukaan dari Karinding Attack - sebuah kelompok musik performance yang menggunakan alat-alat musik sunda "purba" yang terancam punah mulai kembali dimunculkan, seperti Karinding dan Celempung. 


Karinding Attack dalam launcing pamali2 dibaca-baca (frans)

Acara yang berlangsung pada hari selasa, menimbulkan banyak pertanyaan dari kawan-kawan yang tidak bisa hadir karena ini merupakan hari aktif. Ini merupakan candaaan yang coba dikaitkaitkan , Kenapa hari selasa?  mungkin ini bagian dari pamali itu sendiri yang mengharuskan louncingnya dihari Selasa, karena hari yang lain Pamali .Keberadaan Buku Pamali 2, mencoba mengulang kesukssesan Buku pamali 1 dari segi bisnis karena menjadi salah satu Bestseller walaupun secara moral, Kak norvan hanya ingin membagi coretan2 tangannya kepada publik sebagai eksistensinya sebagai komikus. Buku yang menjadi salah satu penawar dahaga dari kelesuan dan minimnya buku-buku komik yang diterbitkan di Indonesia. Semoga ini menjadi peletup para komikus lainnya untuk terus berkarya komik dan menerbitkannya.

Rabu, 09 Maret 2011

HOMICIDE disscus

jan 2010 | frans ari prasetyo 


Apalagi yang mau dibahas tentang band yang satu ini. Yeah, memang HOMICIDE akan terus menjadi pembicaraan dikalangan subculture khususnya diBandung. Homicide yang tahun 2009 dinyatakan bubar oleh salah satu frontman-nya Ucok aka Morgue Vanguard aka Herry Sutresna dicoba diulas setelah dari sejak pendiriannya band ini termasuk yang jarang diketahui seluk-beluknya secara mendalam, mungkin hanya dikalalangan teman-teman dekatnya saja. Kali ini di Common Room  dengan mendatangkan sang-frontman Ucok juga hadir Gaya (add backvocal Homicide), andre (add Guitar Homicide),  Reggi (teman dekat) yang dipandu Kimung (ex Burgerkill&Scymbag writer) mencoba membedah secara lebih personal dan mendalam tentang semua aspek yang melekat pada HOMICIDE.

Homicide yang terbentuk sekitar pertengahan 90an, menjadi salah satu tonggak bangkitnya musik-musik yang termarjinalkan, diawali oleh Aszi, Leppe dan Ucok sendiri, Homicide terbentuk dengan mengusung Hip-Hop sebagai pelampiasan passion-nya  dibidang musik, walaupun menurut saya Homicide adalah Hip-Hop yang lebih Punk dari punk itu sendiri dan Punk yang lebih hip-hop  dari hip hop itu sendiri. Seiring waktu banyak terjadi perubahan yang signifikat dari Homicide mulai dari ditinggalkan personelnya satu demi satu, sehingga Ucok berupaya survive sendiri yang mengakibatkan miskinnya produktivitas dari band ini, baik dari album maupun performance nya itu sendiri.

Sekitar 2003an , Homicide mulai merangkak kembali dengan kian produktif untuk serius menggarap Full Album dan coba "manggung" kembali walaupun dikalangan komunitas saja. Akhirnya 2006 keluarlah HOMICIDE CD : The Necrophone Dayz dari Subciety Records  dan kembali menuntaskan hutang nya dengan mengeluarkan CD : ILSHURECSUN tahun 2008 dan tak lupa Vinyl 12" ber-slipt dgn MC HomeLess  dari Prancis, seolah tugasnya telah tuntas maka Ucok membubarkan HOMICIDE ditahun 2009.

Membicarakan HOMICIDE memang banyak aspek yang harus dibahas, terdapat wilayah musikalitas, visual design, komunitas, politik tentunya, life style sampai wilayah pribadi sendiri dari Ucok yang semuanya tertumpah ruah dalam albumnya dan merchandisenya. Belum lagi wilayah sosial politik dan agama yang sering dikaitkan dengan HOMICIDE terutama karena lyrik-lyriknya dan aktivitas dari sang frontman itu sendiri yang secara tegas mempososikan Homicide diranah berbeda dari group lainnya bahkan tak tergantikan !

HOMICIDE disscus by frankazoid
HOMICIDE disscus by frankazoid