Tampilkan postingan dengan label Music. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Music. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Maret 2011

Wujudkan Mimpimu Anak Jalanan

feb 2011 | frans ari prasetyo

Teather anak jalanan (by frankazoid)
"Wujudkan Mimpimu", begitulah judul yang terpampang dalam sebuah bentuk pertunjukan teather berskala internasional dari anak perempuan yang hidup dijalanan. Ini merupakan cerita tentang anak jalanan yang tidak bisa bermimpi secara bebas, tentang mimpi yang mendambakan kehidupan lebih baik dari yang mereka jalani sekarang ini. Masa kecil mereka , yang seharusnya menjadi tonggak perwujudan mimpi mereka nantinya malah terenggut oleh kerasnya kehidupan jalanan.

Dalam pementasan teather ini, adalah tokoh Bintang yang hidup sebagai anak jalanan merasa sangat takut untuk bermimpi. Dia merasa takut apabila bermimpi dia tidak  bisa mewujudkan mimpinya karena harus berjuang untuk bertahan hidup dijalanan, akhirnya dia meninggalkan mimpinya untuk menjalani hidup yang realistis dihadapannya sebagai seorang anak jalanan.

Bintang tidak sendiri, dia hanya salah satu potret dari sekian banyak potret kehidupan anak jalanan di Indonesia. Dalam pikirannya adalah bagaimana caranya agar setiap hari dapat mengisi perutnya dengan makanan tanpa memikirkan mau jadi apa nantinya apabila sudah dewasa. Memang sangat naif bila menyudutkan posisi anak jalanan dengan sigma seperti itu, buktinya anak-anak yang bukan hidup dijalan pun tidak memikirkan akan jadi apa kelak dia kalau sudah dewasa, tapi setidaknya mereka memiliki arahan hidup yang sudah dibuat oleh orangtuanya minimal dengan sekolah dan fasilitas tang mendukung dia untuk berkembang, berfantasi dan bermimpi tentang masa depan. lalu bagaimana dengan anak-anak dijalanan, mereka sudah dikondisikan untuk melakukan hal-hal yang orang dewasa lakukan, seperti mencari uang untuk kehidupannya, jangankan sekolah bisa makan dan tidur nyaman pun mereka sudah merasa cukup. Dari hal diatas, sebenarnya anak jalanan juga memilki potensi yang sama bahkan jauh lebih besar jika bisa dikontrol dan diarahkan, karena mereka sudah terbiasa dengan kehidupan yang sangat keras. Mereka sangat berani dan kuat, mereka hanya ingin diperhatikan dan diperlakukan selayaknya anak-anak oleh negara ini untuk bisa bermimpi dan menentukan masa depannya yang lebih baik.

Dalam menemukan jati dirinya, khususnya anak perempuan maka apa yang dikisahkan diatas dipentaskan secara teater musikal oleh anak-anak yang di bimbing dan diprakarsai oleh Ubuntu Teather Organization,Yayasan Bahtera dan Mainteather. Ini merupakan kolaborasi dari kerjasama yang dibentuk oleh mereka dalam melakukan kerjasama seni budaya berupa teather, seni tari, seni suara dan seni gambar yang terangkum dalam pertunjukan ini yang kali ini berlangsung  diCommonrooms setelah sebelumnya mengadakan pertunjukan di tiga tempat berbeda, antara lainm di SDN Sukaraja, Studio Rosid dan di Gedung Indonesia Menggugat. 

Pertunjukan teather anak jalanan ini sebagai manifesto dari betapa seni teater anak diterlantarkan oleh negara ini padahal dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 34 menyebutkan bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara. Sedangkan dalam Konvensi hak-hak anak (KHA) yang telah diratifikasi oleh pemerintah Indonesia melalui Keputusan Presiden no.36 tahun 1990. Disana disebutkan dalam pasal 5 bahwa keluarga bertanggung jawab mengasuh dan membimbing anak-anaknya dan pasal 19 menyebutkan bahwa anak memilki hak perlindungan dari segala bentuk kekerasan fisik, seksual, mental,eksploitasi dan pengabaian dan penelantaran baik ketika anak diasuh oleh orang tua kandung, orang tua anggkat/wali maupun di panti asuhan. Di pasal 18 menyatakan kewajiban negara membantu keluarga yang tidak mampu menjalankan tanggung jawabnya mengasuh anak melalui berbagai program pendidikan bagi orang tua tentang mekanisme pola pengasuhan anak, konseling keluarga,bantuan bagi keluarga miskin. Pertunjukan ini juga sebagai langkah nyata dalam perwujudan salah satu pasal dalam KHA , yaitu pasal 31 dimana setiap anak, tidak terkecuali anak jalanan mempunyai hak untuk menikmati seni budaya, waktu luang, istirahat dan rekreasi. Melalui kegiatan seni budaya ini anak-anak jalanan mempunyai peluang untuk mengembangkan bakat, kepribadian , keterampilan sosial dan personalnya yang diharapkan menjadi bekal awal untuk menapak asa pada kehidupan dimasa depan.Mengingat tentang pasal-pasal diatas, seharusnya negara ini sangat serius dalam mengatasi permasalahan ini. 

Munculnya anak-anak jalanan di berbagai kota diIndonesia menandakan gagalnya keluarga dalam menjalankan perannya untuk bertanggung jawab untuk mengasuh dan memelihara anak-anaknya dan juaga merupakan kegagalan sebuah negara dalam mengemban amanah rakyat dan konstitusi. Anak jalanan merupakan masalah yang cukup kompleks, karena melibatkan banyak sektor yang tidak bisa hanya dikelola oleh sebuah instansi pemerintah,disini banyak departemen atau instansi yang memiliki peranan penting untuk mengatasi anak jalanan ini, contohnya departemen pendidikan, departemen sosial dan lainnya. Ini dibutuhkan komitmen besar dari negara ini yang dipimpin langsung oleh Presidennya dan semua perangkat aparatur negara ditingkat pusat maupun di tingkat daerah. Bila ini terwujud, minimal negara ini bisa mengurangi tingkat kemiskinan warganya dan memberikan sebuah harapan untuk masa depan yang lebih baik, karena masa depan sebuah negara bergantung dari anak-anaknya tidak terkecuali anak jalanan.


Balkot Terror Project : Circuits,Daighila and more fighting in Bandung

feb 2011 | frans ari prasetyo

Bougenvillle space by frankazoid
Circuit - Australia (by frankazoid)
Circuit - Australia (by frankazoid)

Balkot Terror Project dan Cimahi familia menjadi promotor dalam gelar pertarungan antara wakil dari Australia , Malaysia dan Indonesia sendiri. Australia yang diwakili oleh Circuits yang berdomisili di Sydney dan Malaysia yang mengirimkan Daighila sebagai utusannya dari Negeri Sembilan.  Pihak Indonesia sendiri yang diwakili oleh komunitas balai kota di bandung mengirimkan antara lain  Fukk Bar culture, Siluman Gulali, sedangkan dari pihak Cimahi antara lain diwakili oleh Bougenville serta ada juga dari jakarta yang diwakili oleh GunXrose. Ada sekitar 13 band yang melakukan pertarungan bersama dalam event "POGO" yang digagas oleh promotor diatas.

"Pertarungan" yang disuguhkan penuh dengan passion, emosional, dan attitude yang menjaga kualitas etika pertemanan dalam sebuah komunitas underground. Pertarungan yang dikemas dengan senang, ceria menghadirkan sebuah pertunjukan musik khas underground dengan tanpa kerusuhan dan citra negatif yang selama ini diemban oleh komunitas underground ini. Citra negatif ini yang ingin diruntuhkan oleh Balkot Terror Project yang bekerja sama dengan Cimahi Familia sehingga terlaksananya acara ini.

Pertarungan yang diberi tajuk "Pogo" bukan tanpa alasan, karena terdiri dari beragam latar belakang yang berbeda  baik ekonomi, sosial, budaya dan kewarganegaraan tidak menyulutkan antusiasme mereka untuk ber"pogo" bersama. Pogo sendiri merupakan sebuah istilah untuk menikmati musik underground dengan cara berdansa atau menari menggerakan anggota badan untuk mengikuti irama musik yang sedang dimainkan oleh performers.

Bertempat disebuah area studio latihan band bernama Bougenville yang terletak dikawan Lembang parongpong Bandung Utara yang berjarak sekitar 30 km dari pusat kota Bandung tidak menyurutkan antusiasme publik yang menyenangi aktivitas underground untuk hadir dan ber"pogo" bersama. Ini juga sebagai perwujudan yang aktif dan progresif dari Balkot Terror Project untuk tetap beraktivitas walaupun issue tentang kebutuhan ruang publik bagi komunitas ini sampai sekarang belum ada sejak didengungkan pemerintah ketika merespon kejadian Tragedi AACC , 3 tahun lalu. hal ini bukan hambatan , sebelumnya pun balkot Terror project beraktivitas secara mandiri dan berkolaborasi dengan komunitas atau kolektif lain untuk mencari solusi tempay tadi, contohnya dengan Cimahi familia dalam acara ini.

Seharusnya komunitas-kominitas lain juga tetap bergerak secara otonom dan kreatif untuk mengakali kekurangan yang ada bukannya malah berhenti beraktivitas karena kendala-kendala tersebut yang ternyata bisa disiasati dengan cermat.

Bougenvillle space by frankazoid


Lembaga propaganda : Aksi Batu

Jan 2011 | frans ari prasetyo

Pembukaan pameran Aksi batu by frankazoid
Diskusi dalam aksi batu by frankazoid
"Molotov " - salah satu karya lembaga propaganda by frankazoid
Performance Aksi batu by frankazoid
"Sepakat Untuk Tidak sepakat", sebuah ungkapan yang mungkin bisa merepresentasikan sesuatu yang dilakukan untuk menyikapi beragam  dinamika yang terjadi di negeri ini. Sebuah "kesepakatan" yang terbentuk dari beragam latar belakang individu atau kelompok dengan bermacam aktivitasnya untuk mengepalkan suara "tidak sepakat" atas segala yang terjadi sekarang ini.  

hal ini merupakan respon yang sama dilakukan oleh salah satu "founding father" negeri ini. Respon dari sebuah ketidak sepakatan dalam bentuk "gugatan" atas tindakan kolonialisme yang terjadi pada waktu itu, yang kemudian dikenal dengan sebuah Pledoi "Indonesia Menggugat". Semangat yang sama coba digulirkan dalam bentuk yang berbeda tetapi dengan esensi yang sama, yaitu sebuah gugatan atas beragam hal yang terjadi dalam berbagai sektor elemen kehidupan dimasa sekarang ini.

Lembaga propaganda yang dikenal aktif dan cukup progresif dalam berbagai aksinya dengan melalui pendekatan visual dan seni performance, dalam kesempatan kali ini menggandeng beberapa individu maupun komunitas yang mempunyai "passion" yang sama untuk bersama-sama melakukan sebuah "gugatan publik " dengan caranya masing-masing. Salah satunya berkolaborasi dengan Komunitas Taman Kota yang secara progresif dengan cenderung militan terus melakukan aksi langsung untuk bersentuhan dengan publik diruang-ruang fisik kota melalui pendekatan edukatif dengan fokus pemanfaatan taman-taman kota untuk dijadikan sarana ajang edukatif kepada masyarakat kotanya itu sendiri.

Sebuah peristiwa yang sama , ditempat yang sama , walaupun dengan cara yang berbeda terus mencoba dan berharap menjadi rangsangan dan dorongan yang berkelanjutan untuk terus bergerak menyikapi secara aktif tentang dinamika yang terjadi. maka kami disini berkumpul dengan sebuah kesepakatan atas kondisi yang ada sekarang ini.

Dalam aksinya kali ini juga disuguhkan sebuah dokumentasi visual berupa foto dan video serta sebuah buku yang mengangkat issue tentang daerah Karst Citatah yang sangat dilematis dan politis, bagaimana tidak disatu sisi itu merupakan laboratorium alami tentang tambang dan batuan tapi disisi lain juga ada masyarakat yang menggantungkan hidupnya dengan mencari batuan untuk dijual. Disisi lainnya sebagai daerah serapan air tapi disisi lain juga ada eksploitasi pertambangan secara kapital. Inilah wajah yang ingin ditampilkan sebagai salah satu betapa penuh dinamikannya negeri ini.Disudut lain ada performance yang mengetengahkan tentang issue-issue sosial politik yang terjadi didepan mata kita sehari-hari. Sebuah kritik membangun yang secara langsung yang cukup signifikat yang dapat mengingatkan kita untuk tidak terlena dengan perubahan dan perkembangan atas dinamika yang terjadi.


Kata Pengantar untuk Pameran Poster dalam Aksi Batu yang diselenggarakan oleh Lembaga Propaganda di Gd. Indonesia Menggugat-31 jan 2011

Tribute To Widji Thukul

des 2010 | frans ari prasetyo

Performance Dedi koral dalam Tribute to widji thukul by frankazoid
Widji Thukul, siapa yang tidak kenal lelaki kelahiran desa Sorogenen Solo- Jawa Tengah 47 tahun lalu ini.  Hampir mayoritas seniman,sastrawan,aktivis,politikus sampai kalangan mahasiswa di negeri ini sangat mengenal sosok ini Walaupun dia lahir dari keluarga yang kurang mampu sehingga putus sekolah. Sepak terjangnya dalam  mengkritik pemerintah orde baru melalui puisi-puisinya menjadikannya sebuah ikon baru dalam dunia pergerakan dan aktivisme.

Widji Thukul memulai gerakan aktivismenya melalui ranah senirupa dan sastra, keterlibatannya diawal tahun 1990an dalam organisassi Jakker (jaringan kerja kesenian rakyat) yang merupakan anak organisasi dari PRD (partai rakyat demokratis) yang notabene merupakan partai oposisi yang didirikan oleh kaum muda yang sangat vokal dalam mengkritisi sepak terjang pemerintahan orde baru. Akibat dari berragam aksi yang dilakukannya, Widji Thukul menghilang ditahun 1998 sampai sekarang.

Tribute yang dilakukan kali ini untuk mengenang dan menteladani atas apa yang dilakukan oleh Widji thukul  dalam mempertahankan atas apa yang diyakininya sampai akhirnya menghilang seperti ditelan bumi bersama prinsip dan keyakinannya . Tribute yang dilaksanakan diCommonrooms ini melibatkan banyak pihak, mulai dari   seniman musik , performance, instalasi sampai pembaca puisi dan yang hadir pun dari berbagai kalangan. Terlihat Dedi koral, Tisna sanjaya, Wawan sofwan, Abah JPK, Morgue vanguard dll mencoba merespon tentang keberadaan widhi thukul dan karyanya dalam gerakan aktivismenya diera rezim orde baru dinegeri Ini.


Poster tribute to widji thukul

bandung World Jazz 2010

des 2010 | frans ari prasetyo
bandung world jazz 2010 by frankazoid
"Sound Through The Dimension ", adalah tema yang diusung dalam
pagelaran Bandung Wold Jazz Festival 2010 yang berlangsung di sabuga
selama dua hari, 6-7 november 2010. Mengulang event yang sama ditahun
2009 kali ini perbaikan dari kekurangan pada tahun sebelumnya
menjadikan Bandung wold jazz 2010 menjadi event yang ingin menancapkan
taringnya lebih dalam untuk menjadikan Kota bandung sebagai barometer
Music world Jazz di dunia.

Ini sangat mungkin terjadi dan sedang diupayakan melalui event BWJ
ini, karena haya dalam event ini yang melibatkan musisi internasional
yang cukup banyak dan menduduki posisi dan porsi yang sama dengan
musisi lokal. Selain mengangkat pamor musisi lokal event ini juga igin
mengegaskan bahwa musik adalah bahasa universal yang bisa membuat
sebuah perbedaan menjadi sebuah sinergi dalam menghasilkan harmonisasi
yang menakjubkan.

Acara yang diinisiasi oleh Jendela Ide dengan melibatkan independent
event Organizer, membuat event ini menjadi event penutup akhir tahun
yang manis bagi warga kota Bandung dengan suguhan world jazz dari
berbagai macam negara antara lain musisi Duo Maurino taufic
(italy/brazil), Orkesstar Trio (singapura), Yuri Honing Quartet
(holland), dan Joan & jsessel Tone (malaysia). Musisi dari indonesia
pun tidak kalah sensasional dan sudah berkaliber internasional
bagaimana tidak disana ada Tohpati, balawan, Imel Rosalin, Sudjiwo
tedjo, Gilang ramadhan, Syahrani, Prabumi, Koko harsoe, saraswati dan
lainnya belum lagi ditambah penampilan atraktif dari anak-anak dan
remaja dari BWJ youth yang di asuh oleh Jendela ide yang menampilkan
sebuah drama musikal.

Dengan tiket yang relatif murah, berkisar antara IDR 50.000 - 75.000,
adalah harga yang sangat worthed untuk memanjakan telinga kita oleh
ramuan nada-nada yang dijadikan para koki dengan aroma world Jazz.
Acara yang rencananya akan berlangsung setiap tahun dan akan
berlangsung marathon selama lima tahun, dan semoga akan terus
menampilkan yang terbaik dalam memuaskan publik bandung khususnya dan
publik Indonesia dan Internasional pada umumnya.

semoga saja dan kami tunggu janjimu di Bandung World Jazz 2011.............



Europa Musician dalam BDG World jazz 2010
Gilang ramadhan by frankazoid
African musician dalam BDG world Jazz 2010

MONJU World Music

Nov 2010 | frans ari prasetyo

sarah - maika gomes (spanyol) dalam Monju Fest  by frankazoid

MONJU West Java World Music Festival yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah Provinsi jawa barat di area Monumen Perjuangan Dipatiukur menyuguhkan world music sebagai fokus kontent acaranya. Betapa tidak banyak musisi-musisi berkaliber nasional maupun internasional yang selama ini memang intents bergerak dalam genre world musik ini coba disuguhkan dengan apik dan sinergi dalam event ini. walau pun ini merupakan event pertama kalinya tapi tidak mengurangi antusias penonton untuk hadir disana.

Acara yang berlangsung selam 2 hari diisi oleh penampilan oleh musisi mancanegara antara lain Collin bass (UK), Jenny weisgerber (jerman), Kamal Musalam (dubai), Ron Reevers/varogus (australia), sarah dan maika gomes (spanyol), tidak kalah menarik dari Indonesia pun menyuguhkan tallenta terbaiknya antara lain 
Dwiki Dharmawan, Krakatau, samba sunda, Saung Angklung Udjo  yang menyuguhkan performa yang menarik karena diiringi oleh alat-alat musik tradisional sunda, seperti angklung, calung dan gamelan sunda . 

Tapi yang paling ditunggu oleh masyarakat Bandung adalah penampilan sang Fenomenal "Darso" salah satu okon tradisi sunda yang membawakan aroma sunda dalam hidangan pop yang kadang dinilai kampungan oleh sebagian orang . Tapi nyatanya laki-laki berusia 65 tahun ini mampu menampilkan performa yang misterius sehingga dapat membius warga bandung yang sengaja hadir hanya untuk melihat darso , kata beberapa orang yang saya temui dilokasi.

Sayangnya acara ini yang diisi dengan tallent-tallent  yang berkualitas tidak diimbangi oleh pelaksanaan yang berkualitas pula , mulai dari pemilihan tempat yang kurang representatif mengingat jenis music seperti ini tidak begitu familiar ditelinga masyarakat awam , sound system yang tidak maksimal mengingat jenis musik ini banyak melibatkan nada dan suara-suara dari bermacam alat musik yang yang sangat sensitif terhadap kualitas soundsystenm yang dipergunakannya sehingga suara atau nada yang diinginkan tidak tersinergikan secara sempurna dengan yang lainnya, dan juga publikasi yang kurang agresif membuat acara ini cenderung sepi dari pengunjung walaupun dibuat secara gratis.

Mungkin ini salah satu dari rencana awal dari pemerintah untuk lebih mengakrabkan dirinya dengan masyarakat melalui medium kesenian dan budaya, kita tunggu saja....

Dwiki Dharmawan di Monju Fest 2010 by frankazoid
Musician International join in Monju fest 2010 by frankazoid

KIKC FEST 2010 di Stadion Siliwangi

July 2010 | frans ari prasetyo

Pengunjung Kick Fest 2010 (frankazoid)

Ditengah lesunya produksi lokal yang 'mulai' kalah bersaing dengan produk impor asal cina yanglebih murah, kita khususnya warga Bandung patut berbangga eksistensi lokal clothing dan distro mampu memberikan jawaban dengan tetap mengedepankan kreativitas dan idealisme.

Bisnis lokal clothing diIndonesia mulai bergulir sekitar tahun akhir 90-an saat krisis ekonomi melanda kawasan Asia termasuk Indonesia yang terparah. Atas dasar tersebut muncullah inisiasi dari sekelompok anak muda Bandung yang biasa berkumpul dan bermain bersama di ruang publik seperti, studio musik, gallery, skate park, taman kota yang berupaya untuk 'tetap gaya-fashionable' tetapi tetap terjangkau secara ekonomi. Insisiatif ini yang akhirnya membuat fashion sendiri dengan awalnya merespon fashion import dengan 'mengakalinya' untuk kebutuhan sendiri seperti untuk nge-band, show sampai bermain olahraga skate yang sidah identik dengan busana import, tapi ini bukan melakukan pemalsuan. Disini terjadi rekonstruksi fashion dengan produksi lokal beraroma import, hal ini bisa terjadi karena adanya sisi kreativitas baik dari segi produksi, design dan distribusi sehingga dapat dijangkau publik.

Berangkat dari hal diatas maka lahirnya beberapa label clothing yang kemudian bergulir menjadi bloa salju, walau pun banyak yang timbul tenggelam. sampai saat ini kurang lebih terdapat 400 brand clothing yang sudah ada di Bandung, tetapi yang masih benar-benar aktif sekitar 100 brand. Apabila didata sekarang sudah terdapat 1000 perusahaan clothing yang tersebar di seluruh Indonesia. 

KICK fest adalah jawaban real. Jadi sangatlah pantas apabila KICK fest kali ini mengusung tema GET REAL. KICK sendiri adalah Kreative Independent Clothing Kommunity yang merupakan  asosiasi forum bisnis dari pengusaha clothing lokal yang dibentuk September 2006. Kelompok ini mulai tumbuh menjadi wadah industri kreative khususnya clothing yang  awalnya fokus di Bandung, namun seiring perkembangannya menjadi wadah bagi industri  sejenis dari beberapa kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Yogyakarta,Surabaya, Malang, Lampung, Makasar dan Medan.

Ini merupakan eksistensi pergerakan lokal dalam industri kreatif Indonesia. Diawal 2010 ini Indonesia memasuki gerbang 'real' globalisasi dengan perdagangan bebas C-AFTA. Masuknya barang import yang didominasi oleh produk cina dengan harga lebih murh dari produk lokal dikhawatirkan mengganggu roda ekonomi sektor industri negeri ini. Namun era perdangan bebas menjadi momentum untuk meningkatkan daya saing produk lokal, peningkatan kualitas disegala sektor ditambah improvement kreativitas yang dimanis aakan menjadi jawaban sekaligus pertahanan lokal yang menjanjikan.

tahun 2008, industri kreatif seperti fashion, music, merchandise dll menyumbang 6-7% pada PDB Indonesia, menurut mentri Perdagangan Indonesia Mari Elka Pangestu, pertumbuhan lapangan kerja kreatif mencapai 8,5% per tahun, jauh diatas sektor manapun secara nasional.

GET Real ! bahwa Indonesia harus bangga dengan keberadaan perusahaan-perusahaan clothing yang telah bertahan 12 tahun ini banyak memberikan kontribusi baik secara langsung maupun tidak langsung kepada negeri ini. setiap tahun munculnya pengusaha-pengusaha kreatif baru  dimana mereka mampu membangkitkan sisi komersialisasi produknya yang dibumbui oleh nilai-nilai idealisme.

Get Real pada KICK fest kali ini telah menjelma menjadi sebuah realisasi secara konseptual yang dapat dengan mudah diakses publik baik secara industri maupun sosial yang akhirnya dalam beberapa waktu semenjak diselenggarakan untuk pertama kalinya menjadi tolak ukur yang signifikant terhadap perkembangan industri kreatif terutama di bidang fashion yang berkelas karena memilki atmosfer, mekanisme dan regulasinya tersendiri dalam pendekatan industri dan sosial ke publik baik konsumen maupun produsen. Akibat dari itu tidak ditemukannya persaingan yang tidak sehat, malah terjadi hubungan yang harmonis dan mutual antar sesama industri clothing.

Semoga ini menjadi benar-benar REAL dalam kenyataannya, tidak ada pihak yang dirugikan atau termarjinalkan atas semuanya......intinya semoga tetap menjunjung etika baik etika berbisnis maupun etika secara moral dan sosial.

Tjcukimay dalam Kick Fest 2010 (by frankazoid)

Bandung Blues

July 2010 | frans ari prasetyo

capybara salah satu peserta Blues Competition (frankazoid)
capybara salah satu peserta Blues Competition (frankazoid)

Jakarta International Blues Festival kembali bergulir, tahun ini merupakan tahun penyelenggaraannya yang ke-dua. Berkaitan dengan hal tersebut maka untuk mengisi event ini dengan beragam tallent yang berkulaitas, diusunglah project Blues Band Competition yang berlangsung dibeberapa kota besar di Indonesia termasuk bandung untuk menyeleksi tallent-tallent lokal muda yang potensial untuk unjuk gigi di perhelatan Jakarta International Blues Festival nantinya di jakarta sekitar bulan Oktober 2010.

Tempat penyelenggaraan Blues Band Competition di Bandung sudah biasa ditebak, yaitu di Bumi Sangkuriang yang notabene merupakan tempat yang paling aktif menyelenggarakan show-show musik Blues di Bandung. Salah satu jurinya yang saya kenal adalah Hari Pochang, merupakan salah satu orang yang 'dituakan' di kalangan musisi blues di Bandung khususnya.

Ini merupakan sesi ke-3 ketika penyelenggaraannya di bandung. Pada sesi pertama dan kedua dipilih masing masing dua band, dan pada sesi kali ini juga akan dipilih dua band dari enam band yang mengikutu audisi band competition ini. Perwakilan dua band dari masing-masing sesi akan di audisi kembali untuk dipilih dua band yang nanntinya berhak ikut serta dalam Jakarta International Blues Festival mewakili kota bandung.

JAZZ dan Pencitraan

July 2010 | frans ari prasetyo
Syahrini dalam pembukaan pameran  foto Jazz&Pencitraan (frankazoid)
Syahrini dalam pembukaan pameran  foto Jazz&Pencitraan (frankazoid)
Membaca sejarah kehadiran musik jazz di dunia, tentunya akan menemukan rentetan cerita baik bersifat oralis, textual maupun visual dari para pelakunya dan segenap atribut pendukungnya, seperti penulis, fotographer, sound engineering, crew dan lain-lain. Begitu pun yang terjadi di Indonesia, tentunya sebagai musik serapan, jazz memiliki ruang yang tersendiri boleh dikatakan memiliki eksklusivitasnya sendiri. Hal ini sangat wajar karena awalnya menyusupnya jazz keIndonesia hanya dapat diakses oleh kalangan tertentu, itu yang membuat jazz kurang begitu populer di Indonesia.

Rentetan cerita tersebut akan menjadi catatan historis yang ingin MIa Damayanti bangun dengan karya-karya foto dokumentasinya tentu saja tentang Jazz di Indonesia khususnya di Bandung. Selama satu tahun terakhir Mia menggunakan sisi visual fotografi dalam memetakan orang-orang yang aktiv dalam menggeluti musik jazz ini. 

Foto-foto yang ditampilkan memiliki kecenderungan foto panggung dimana para musisi sedang menunjukan aksi performancenya di hadapan audiencenya. Dalam sebuah pameran tunggal sangat wajar bila ini menjadi satu kaitan tema maupun satu kaitan visual.

Dengan tajuk Jazz : Poster & Post It, merupakan sebuah upaya Mia bersama Klab Jazz untuk membangun dan menambah infrastuktur pemahaman publik mengenai musik jazz, pelaku dan atributnya secara visula fotografi. Bekerja sama potluck yang menyediakan akses tempat berlangsungnya pameran ini dan Yonas sebagai partner pembuatan cetak fisik dari visual yang ditampilkan serta Air photografi yang secara konsisten menjadi salah satu elemen yang progresif menangani fotografi khususnya diBandung. Ditambah beragam media radio seperti Radio Sky, KLCBS, Mara dan Rase yang mendukung terselenggaranya pameran ini, keberadaan radio ini sangat penting , karena bahasa musik jazz khususnya tidak bisa dilepaskan dari peran-peran radio diatas, secara mereka memilikiprogram memutar lagu-lagu beraromakan Jazz.

Pameran yang diawali oleh oblolan santai yang di gagas oleh Nikman sebagai penggiat di Klab Jazz dan Galih Sedayu sebagai penggiat photografi, menariknya terdapat sosok Syahrani sebagai salah satu penyanyi Indonesia yang sudah identik dengan aroma jazz. Obrolan yang diikuti oleh sekitar 20 orangan itu berlangsung santai dan tik-tok saling menanggapi karya yang disajikan maupun berbagi pengalaman diaspek fotografi. 
Obrolan yang ditutup dengan penampilan duet antara Syahrani dengan Imelda Rosalin dan selanjutnya menjadi area 4peniti untuk unjuk gigi membuat atmosfer Jazz di Potluck semakin kental.

Minggu, 13 Maret 2011

Vacation Program : Persentation by Emily Cornor, Woodcraft-UK

Jul 2010 | frans ari prasetyo





Jendela ide kembali menjadi partner untuk memfasilitasi program pertukaran kebudayaan. Kali ini Emily Cornor dari Woodcraft-UK melakukan program vacationnya di Jendela Ide dengan memaparkan games dan Persentasi.Sedangkan dari Jendela Ide menampilkan Musikal drama dari  Jilly-Aliya-Riri-Gendis yang diiringi karya The birth of Hanoman dengan Composesd by Bintang Manira.

Acara ini sebagai ajang pertukaran ide, sharing pengalaman, dan unjuk kebolehan tanpa ada rasa guru dan menggurui , tanpa ada perbedaan secara historis dari masing-masing personal. Semua berbaur dan saling melengkapi dalam suasana yang kekeluargaan khas masyarakat Indonesia yang diperkuat lagi oleh ceremonial Ulang Tahun ke-5 dari Julian, salah satu pemain Djembe anak-anak dari Jendela Ide.




NU SUBSTANCE 2010 : Pertunjukan Pantun Buhun

july 2010 | frans ari prasetyo

karinding attack (by frankazoid)


Sinden pantun buhun (by frankazoid)

Nu Substance seolah telah menjadi agenda rutin yang akan terus diusung oleh Common Room sebagai pilot project mereka. Nu Substance sendiri merupakan sebuah festival yang berusaha mengaitkan semua resource mengenai open culture, Technology. and urban Ecology. Program Nu Sunstance yang banyak melibatkan komunitas "kreatif" di Bandung ini menjadi tolak ukur bagaimana Common Room memposisikan dirinya ditengah-tengah arus kreativitas yang melanda kota ini. Program Nu Substance kali ini tengan tajuk "Floating Horison" mencoba menawarkan hal lain yang berbeda dengan program Nu Substance sebelumnya.

Diawali dengan acara ceremonial dari lokal cultutre (sunda) berupa bertunjukan Pantun Buhun yang dimainkan oleh Mang Ayi dan Wa Itok mengusung lakon Berhala Gugur. Pantun merupakan sajian sastra berupa sajak,dialog yang dilantunkan dengan ritme tertentu, sedangkan buhun berarti waktu lampau bisa dikatakan jaman dahulu (nenek moyang).

Pertunjukan ini juga melibatkan Tisna Sanjaya dari Pusat Kebudayaan Cigondewah merangkap seniman dan dosen FSRD ITB, ada juga Hawe Setiawan yang merupakan seorang penulis. Adi Gembel (vokalis Forgotten) dan Man (vokalis Jasad) yang notabene merupakan frontman dari band-band Metal asal Ujung berung (Bandung Timur) turut memberikan kontribusinya untuk pertunjukan ini, walaupun sangat berbeda dari segi musikalitas dan beragam atribut lainnya yang selama ini melekat dalam diri mereka. Tidak lupa Karinding Attack yang saat ini merupakan kelompok musik garda depan yang memainkan dan mempromosikan alat musik karinding dan tentu saja dengan issue ke-Sundaannya.

Pertunjukan berlangsung molor 2 jam dari waktu yang telah ditentukan. Ternyata hal ini sengaja dilakukan selain memang karena kendala teknis, supaya semakin malam agar pertunjukan semakin memberikan nuansa magis. Benar saja tatkala terdapat beberapa orang sinden yang melantunkan pantun buhun diiringi oleh musik dari Karinding dan Celempung membuat atmosfer Commom Room kala itu beraroma mistis, sehingga mengundah roh-roh nenek moyang untuk ikut larut dalam pertunjukan ini. Buktinya terdapat peserta peryunjukan yang mengalami ketidaksadaran jasmani dan rohani sehingga prilaku atau aktivitasnya diluar kontrol batas dirinya sebagai manusia manusia (kerasukan).

Ini menjadi moment/pertunjukan  yang ingin kembali diperkenalkan oleh Common Room kepada publik Bandung khususnya mengenai issue ke-lokalan yang dibungkus oleh youth movement- Nu Substance.

FETE DE LA MUSIQUE

jun 2010 | frans ari prasetyo


Apa yang diusung oleh CCF belakangan ini memang mulai terfocus pada pemanfaatan sumberdaya manusia dalam wilayah "youth culture". Bagaimna tidak, mulai banyaknya program-program yang menginisiasi kegiatan "youth culture" tadi. Musik adalah wilayah yang paling progresif dan dinamis sebagai salah satu muatan yang terkandung dalam budaya populer anak muda.

FETE DE LA MUSIQUE, sebuah festival musik yang awalnya berkembang di Perancis diawal 80an (awal dimulai 1982), festival ini terus berkembang sehingga menjadi salah satu festival musik terbesar di eropa yang diikuti oleh ratusan seniman dari 100 negara dan selalu diperingati setiap tanggal 21 Juni.

FETE DE LA MUSIQUE, salah satu festival paling populer dieropa dan perancis tentunya.Festival yang diadakan gratis ini sangat terbuka untuk semua musisi baik amatir maupun profesional bahkan mahasiswa/pelajar yang ingin unjuk gigi sambil menarik pengalaman perform di sebuah acara level internasional. Kesannya memang "wah" tetapi inilah musik dimana semua orang dari beragam latar belakang identitas,demografi dan geografinya berkumpul dihari musik ini untuk menunjukan sebuah ekspresi dan apresiasi musikalitas dari gaya musik yang beragam dengan suasana yang menyenangkan. Ini yang disebut bahasa musik sebagai bahasa komunikasi universal dimana ekspresi-ekspresi musik memiliki muatan transaksi komunikasi dengan beragam elemen kehidupan.

Pada acara kali ini, CCf Bandung sebagai perwakilan dari negara Perancis mencoba membawa suasana FETE DE LA MUSIQUE ke kota Bandung. Teater terbuka dago Tea House Taman Budaya yang terletak dikawasan Bandung Utara yang sejuk menjadi pilihan tepat untuk membawa "roh" festival di Perancis ini ke Bandung sebagai kota Paris van Java, ditambah lagi cuaca dan suasana yang benar-benar cozy untuk sebuah festival.

Pemilihan Teater terbuka Dago Tea Hose yang notabene merupakan milik pemerintah kota Bandung, menurut saya sedikit aneh. Bagaimana tidak dilain sisi pemerintah kota Bandung kurang mendukung semua kegiatan yang berkaitan musik yang akan mendatangkan bannyak massa dengan tidak memberikan ijin berkegiatan apalagi menyediakan fasilitasnya. Hal ini sebagai dampak dari tragedi gedung AACC yang menewaskan 11 orang ditahun 2008 kemarin. Entah atas dasar apa pemerintah kota Bandung memberikan ijin penyelengggaraan event bahkan menggunakan fasilitas miliknya untuk acara ini, tapi sudahlah semoga pemerintah kota pun memberikan ijin dan aksesnya untuk event-event lainnya yang sejatinya diselenggarakan oleh masyarakat Bandung sendiri. Jadi publik Bandung benar-benar menjadi tuan rumah dan pelaku langsung dalam beragam aktivitas dikotanya sendiri, bukan menjadi penontonnya.

Kali ini Perancis mengirimkan delegasi musiknya yang diwakili oleh MILIANA. Tidak kalah seru Bandung pun menyuguhkan antara lain MOCCA, HOMOGENIC dan PURE SATURDAY. Pemilihan mereka bukan tanpa sebab , selain dikenal memiliki fans yang cukup banyak, penampilan mereka selalu ditunggu oleh publik Bandung khususnya dan Masyarakat pecinta musik umumnya. Contohnya seperi Homogenik yang memperkenalkan vakalis barunya , Amandia Syacridar yang menggantikan Risa Saraswati, selain itu juga menambah adisional player. Gebeg diplot menjadi addisional drum dan satu addisional guitar dari Olive Tree. Posisi Dina dan Dea tetap menmjadi 'roh' inti dari Homogenic. 

Penampilan vokalis baru, Amandia menjadi sorotan karena biasanya ketika sebuah band terjadi pergantian vokalis akan membawa perubahan pada sisi musikalitasnya dan benar saja Homogenic kali ini menjadi lebih bright, cheering and up beat. Hal ini dipertegas dengan posisi Gebeg sebagai drummer. Gebeg kita kenal sebagai salah satu drummer musik Hardcore/punk diera 90an sampai saat ini. Band hardcorenya , yaitu savor of Filth menjadi salah satu band tua/perintis  di scene underground Bandung dan band terakhirnya PowerPunk menjadi dinamika baru yang menawarkan Punk dalam format yang lebih "kekinian"

Penampilan MOCCA, PURE SATURDAY ditambah dengan penampilan band pembuka  seperti Babi eat creakers dan Buddie tidak kalah menawan, ditambah atmosfer yang menarik dari segi cuaca ditambah faktor teknis lainnya yang mumpuni seperti lighting, sound memperkuat citarasa festival yang sebenarnya dimata para penontonnya. 





Celia Rabelo Trio Brazilian Lost in Soemardja

Mei 2010 | frans ari prasetyo

Celia Rabelo Trio (by frankazoid)

Celia Rabelo Trio (by frankazoid)

Bandung World jazz kembali bergulir,  kali ini tidak event sesungguhnya tetapi berupa pre-event yang akan berlangsung sekitar bulan Desember 2010. Gallery Soemardja ITB menjadi tempat yang unik karena Galery Soemardja yang notabene merupakan gallery senirupa kini dipergunakan untuk sebuah musik performance . Pre event ini menampilkan 3 tallent yang salah satunya yaitu Celia Rabelo Trio dari Brazil, maka dari itu dengan mudah saya menyebutnya The Braziloan lost in Soemardja bersama tallent lainnya seperti Karinding Collaboration Project dan Rampak Kendang Jendela Ide, selain itu diselenggarakan pula workshop vocal, percussion dan accoustic guitar.

"Lost" disini dapat dikatakan "tersesat" dapat berujung beragam makna, tapi dengan tanpa mengurangi nilai dari event ini, terdapat wilayah lain yang lebih penting untuk diapresiasi karena disini terdapat interkoneksi dua arah antara audiens dan para tallent yang ditujukan untuk mendapatkan jawaban atas ketersesatan ini.

Apa yang ditawarkan oleh Trio brazil ini dan Jendela Ide sebagai fasilitatornya dalam membangun atmosfer Bandung World jazz 2010 bukan hanya sekedar sebuah pre event dengan performance dan workshop dari para tallent-nya tetapi lebih kearah transformasi kultural, shering cultural dan lainnya secara mutual dengan musik sebagai bahasa universalnya.

Project ini dibangun bersama atas dasar saling pengertian antara musisi, seniman, komponis untuk membangun sebuah hubungan yang melampai batas dimensi geologis, demografi, genre untuk mendapatkan sebuah komposisi baru. Dengan ini diharapkan lahirnya sebuah keunikan dari karya tersebut. Intinya kolaborasi yang dibangun dari yang awalnya "tersesat" karena banyaknya perbedaan dan dididing batas yang ingin dilampaui dengan pre event ini akan membangun kesepahaman ritme dan harmoni dalam sebuah dialog baru.