Tampilkan postingan dengan label Screening. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Screening. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Maret 2011

Peringatan 3 thn tragedi AACC & peluncuran buku "MELAWAN LUPA"

feb 2011 | frans ari prasetyo

do'a bersama mengenang tragedi AACC by frankazoid
9 Februari,3 tahun lalu merupakan moment yang tidak akan pernah terlupakan dalam sejarah perkembangan musik underground khususnya di Bandung dan umumnya di Indonesia bahkan dunia. Bagaimana tidak, kabar tentang kejadian ini tersiar secara nasional bahkan sampai masuk ke berita internasional dan membuka mata publik tentang komunitas underground di Bandung.

Tragedi yang menewaskan 11 orang yang sedang menikamati sebuah acara musik underground dalam format launcing album sebuah band bernama "biside" mencengangkan banyak pihak. Banyak spekulasi yang terjadi, tapi yang pasti ini merupakan pelajaran sangat berharga bagi semua pihak untuk disikapi secara positif.

Commonroom, melalui Solidaritas Independent Bandung (SIB) mengadakan sebuah acara peringatan untuk mengenang korban tragedi tersebut untuk sekedar mengingatkan kembali bahwa mereka itu merupakan bagian dari komunitas sangat besar dari underground di Bandung dan layak untuk diingat sebagai tonggak keberadaan underground itu sendiri diantara masyarakat Bandung. Tonggak yang dijadikan acuan untuk introspeksi, memperbaiki dan belajar untuk bagaimana underground ini berkembang menjadi sebuah wilayah alternatif sub-culture dalam perkembangan aktivitas youth culture. 

Acara yang mulai sekitar pk. 19.00 ini selain mengundang semua kalangan dari berbagai komunitas tapi didominasi oleh komunitas underground itu sendiri, walaupun mereka berasal dari sub-komunitas yang berbeda-beda. Ciri khasnya cukup jelas , semua berpakaian hitam. Selain itu juga SIB mengundang para keluarga korban tragedi ini walaupun tidak hadir semua karena berbagai hal tapi minimal sudah mewakili karena selain acara do'a bersama ada juga acara launcing buku "melawan lupa" yang ditulis oleh Kimung salah satu penggiat dikomunitas Ujung Berung dan Bandung Oral History 

Kimung dalam bukunya ini secara implisit ingin mengingatkan kembali bahwa kita tidak boleh berpaling dari sejarah yang membentuk kejadian di hari ini maupun masa depan, maka kita harus "melawan lupa" dan terus mengingatnya untuk menjadi sebuah informasi berguna , contoh nyatanya adalah  Tragedi AACC ini. Maka dari itu peringatan ini adalah sebuah simbol penghormatan dan penghargaan atas sebuah keyakinan yang dibawa sampai mati, dan kita harus tetap mengingatnya sebagai salah satu bagian sejarah kota Bandung ini. Semoga kejadian seperti ini tidak akan pernah terulang kembali, tapi semangatnya harus tetap dijaga dengan melawan untuk tidak lupa.

Amin....Amin...Amin

Peluncuran buku Melawan lupa by frankazoid

Barbara Strum di Asbestos

des 2010 | frans ari prasetyo

Screening and discuss with Barbara Strum by frankazoid

Asbestos space kali ini menampilkan sosok Barbara Strum seorang seniman performance dan kurator senirupa yang berkesempatan hadir untuk berbagi pengalamannya dengan para pelaku seni di bandung khususnya.Barbara sendiri dikenal dikalangan seniman performance sudah cukup lama, walau pun dia bertempat tinggal di Basel-swiss, tetapi karena aktivitas kesenimanannya yang lintas tempat,lintas negara dan lintas disiplin menjadikan sosoknya sangat diperhitungkan di dunia performace internasional.

Ada hal yang menarik sebelum Barbara melakukan persentasi dari beragan kegiatannya yang dia lakukan selama ini baik secara perseorangan maupun secara kolektif. Kita semua yang hadir disuruh memperkenalkan diri masing-masing dengan segala aktivitasnya. Walaupun yang hadir hanya beberapa orang saja, tidak mempengaruhi antusias teman-teman untuk merespon tentang apa yang dipersentasikan oleh Barbara.

Dalam beberapa karyanya, Barbara bersama teman-temannya sedang melakukan performance dengan latar belakang pengunungan Alpen -Swiss. Kalau melihat aksinya, banyak orang akan mempunyai pendapat berbeda karena banyak issue yang bisa di munculkan dalam project performancenya kali ini. Dengan  berlatar belakang pengunungan, sungai dan pohon-pohon, maka akan menimbulkan beragam asumsi. Contohnya saya, dengan melihat aktivitas semacam itu yang didukung oleh setting latar belakang panorama alam ini membuktikan sebagai sebuah kritik para aktivis lingkungan, tapi barbara bersama teman-temanya tidak berfikir sampai kearah sana, ini hanya sebuah performance dalam merespon alam.

Hal yang berbeda juga dirasakan oleh salah satu teman yang hadir dalam diskusi ini, dia merespon tentang video performance yang mengeksploitasi tubuh sebagai ruang performancenya. Dia sangat tertarik untuk berdiskusi langsung dengan Barbara, karena dia melakukan hal yang sama dengan yang ada di video tersebut, selain itu dia juga dalam kesehariannya berlaku senagai seorang transgender. Maka obrolan pun berlanjut ke wilayah gender dan sekelumit problematikanya sampai ke issue yang paling sensitive sekalipun didiskusikan dengan cara yang santai tapi cerdas.

Kedatangan Barbara , kali ini memberikan value yang lebih bagi teman-teman di Bandung dan tentu saja menjadi sebuah pembelajaran baru bagi Barbara tentang masyarakat Indonesia. Hubungan yang mutual ini semoga meretas komunikasi yang intensif untuk memunculkan kemungkinan-kemungkinan baru yang bisa dalakukan bersama dimasa depan.




Komunitas Taman Kota dan Piala Dunia 2010


12 July 2010


KTK bersama warga diPadasuka menonton Final Piala Dunia 2010 (frans)

Akhirnya perhelatan 4 tahunan event Piala Dunia 2010 yang berlangsung di Afrika Selatan ,berakhir sudah dengan mempertemukan antara kesebelasan Belanda dan Spanyol di partai final. Ya, sepak bola merupakan olah raga terpopuler di dunia termasuk di Indonesia.

Berdasarkan moment tersebut, Baca-Baca dan Komunitas Taman kota menggagas acara nonton final bersama diAula studio Jeihan bersama warga setempat. Apabila pada hari minggu area tersebut menjadi area untuk Sekolah Taman bagi anak-anak, maka sekarang menjadi area nonton bagi para orang tuanya. Terlepas dari itu disini terlihat bagaimana Baca-Baca dan Komunitas Taman Kota menjadi fasilitator atau penyambung aktivitas warga didaerah sekitarnya dalam pemberdayaan masyarakat untuk menciptakan etos kekeluargaan, gotongroyong bahkan dalan skala yang lebih besar menciptakan masyarakat madani. 

Bagaimanapun caranya yang penting membangun kesadaran bersama untuk beraktivitas dengan apapun kegiatannya sepanjang banyak melibatkan warga dan itum positif , maka hal tersebut yang harus terus dipupuk/dibangun diberbagai tempat. 

BRAVO Baca-Baca & BRAVO The Winner !

Sabtu, 12 Maret 2011

Balkot Art Project : Retrospektif

March 2010 | frans ari prasetyo
pameran karya fotografi (by frankazoid)

Dewasa ini perkembangan aktivitas "youth culture" berkembang secara signifikan dalam ranah budaya urban dimasyarakat perkotaan. Bandung sebagai sebuah ruang, dimana kebudayaan anak muda (youth culture) lokal berkembang, beranak pinak dan berevolusi, di kota ini lah "youth culture" dengan segala perangkatnya, tumbuh subur.

Perkembangan identitas sebagai salah satu bentuk rekayasa modern kini tengah dipelajari dari berbagai sudut pandang : Sosiologi, fenomenologi , semiotik ,desain dan berbagai sudut pandang yang mempercayai bahwa proses berkembangnya pola-pola estetika dalam sub-budaya tertentu sesungguhnya dapat menjelaskan banyak hal mengenai proses yang terjadi pada ruang tersebut.

Budaya anak muda, sangat erat hubungannya dengan segala macam yang identik dengan hasrat atau passion. Musik, lifestyle, fashion, visual art, adalah media yang signifikan dalam wilayah politik identitas mereka, disadari atau tidak. Di wilayah ini selain bergeraknya tanda-tanda yang dapat dibaca sebagai usungan mereka dan bahasa respon anak muda terhadap dunia sekitar mereka, juga bergerak sebuah hasrat untuk menemukan identitas dan sekaligus pencarian makna atas kehidupan yang berbeda dengan generasi mereka sebelumnya.

Perkembangan ini salah satunya ditandai oleh munculnya beragam simpul-simpul kolektif/komunitas yang mengusung beragam aktivitas, Balkot kolektif salah satunya. Kolektif yang berkembang diawal 2000-an ini ber-home base di tangga pelataran parkir Gd. Balai Kota Bandung menawarkan bentuk aktivitas budaya anak muda yang mungkin sama dengan lainnya tetapi dengan cita rasa yang berbeda. Betapa tidak cita rasa yang berbeda ini yang membentuk identitas mereka di mata publik. Pola-pola aktivitas kolektifnya tidak hanya sekedar berkaitan dengan musik, tetapi terdapat wilayah lain seperti aktivitas visual, literasi hingga penguatan basis ekonomi intern kolektif Balkot itu sendiri.

Aktivitas musik sudah jelas, ini yang menjadi benang merah bagaimana kolektif ini muncul dengan mengorganisir acara-acara musik performance (gigs) baik dalam skala lokal maupun internasional. Sedangkan aktivitas visual ditandai dengan produktifnya beberapa teman-teman yang interest terhadap dunia visual seperti design, fotografi dan video. Dalam bidang literasi, kolektif Balkot termasuk kolektif yang progresif memberikan wacana, informasi dalam lainnya dalam medianya sendiri yang disebut Zine. Dengan tidak bermaksud mengkotak-kotakan berdasarkan aktivitasnya, semua yang dilakukan diatas oleh Balkot kolektif dapat diintegrasikan secara mutual sebagai aktivitas budaya dengan penguatan basis ekonomi lokal, minimal dikalangan kolektif balkot itu sendiri.

Bila mau ditelaaah lebih lanjut bagaimana kolektif ini secara progresif dan konsisten dengan semua aktivitasnya dapat dilihat dengan beragam koneksi/hubungan komunikasi yang dibangun dengan beragam latar belakang individu yang akhirnya membawa kedalam etos pertemanan yang kental tanpa tendensius apapun. Dari hasil komunikasi yang  dibangun intens dalam mendistribusikan konten apapun, di ranah visual kolektif Balkot menjadi kolektif yang aktivitasnya menjadi bagian dari film yang dibuat oleh teman-teman Wochjech dari Jerman tahun 2004 dan ini berulang di tahun 2006 di mana teman-teman  Rambo dari Amerika membuat dokumentasi perjalanan mereka dan tentu saja kolektif ini ada didalammya. Film ini masuk dalam nominasi Philadelphia film festival untuk kategori dokumentasi. Belum lagi ditambah oleh beberapa teman-teman dalam kolektif Balkot yang karya visualnya seperti design, drawing, fotografi dan lainya diapresiasi publik dalam beragam pameran. Dengan aktivitas yang beragam tadi, membuat kolektif ini menjadi sebuah bahan kajian penelitian ilmiah yang dilakukan oleh peneliti kebudayaan dari Westen University, Australia.

Tanpa disadari, apa yang kolektif ini lakukan membuat beragam artefak kebudayaan yang secara dukumentatif memberikan informasi kultural di kebudayaan populer anak muda kota Bandung, maka dari itu kolektif ini berencana membuat sebuah retrospektif project yang secara garis besar memberikan sajian dokumentatif beragam artefak visual dari semua aktivitasnya yang beragam selama ini dengan tajuk Balkot Art Project.

Project yang berlangsung di Gedung Indonesia Menggugat Bandung, pada tanggal 21 maret 2010 dimulai pk.15.00 s/d pk. 21.00 ini diisi oleh pameran visual berupa fotografi, design, zine (xeroxart), printscreen, kolase dan merchandise yang dibuka oleh share performance dan diikutui oleh diskusi untuk sharing mengenai beragam aktivitas dalam kolektif ini dan akhirnya ditutup oleh pemutaran film. Dalam project ini terdapat transformasi nilai kultural  yang membentuk pribadi/komunitas dalam memandang aktivitas ini kemudian terintegrasi dalam kehidupan sehari-harinya dan untuk mempererat komunikasi sebagai medium semangat yang akan terus diwariskan.



Gigs show - Grave dancer (by frankazoid)
Performance and movie screening (by frankazoid)




DEBT (Movie Screening)

feb 2010 | frans ari prasetyo

DEBT movie sreening (by frankazoid)


Baca-baca Bookmart yang sekarang menempati tempat baru di Studio2 Jeihan , Padasuka Bandung kembali mendapatkan  kehormatan untuk men-screeing film. Dengan fasilitas yang memungkinkan maka teman-teman dari Jogya yang tergabung dalam LOOK Out picture Indonesia dengan fasilitator diBandung teman-teman dari Sunday Screen berafiliasi dengan bacabaca merespon untuk melakukan screening film garapan mereka yang berjudul DEBT. Ini semacam silaturahmi komunitas pecinta film diBandung-Yogyakarta.

Roadshow film ini menyambangi beberapa kota dan komunitas, seperti di Purwokerto, Malang, Surabaya, Malang dan Cirebon .  Bandung menjadi destinasi terakhir dalam raodshownya film Debt ini. Film yang disutradarai oleh Khusnul Khitam dengan disponsori  oleh salah satu perusahaan pembiayaan ritail berpusat di Jogyakarta , menceritakan tentang seorang bernama Sugeng yang bekerja sebagai  Depkolektor sebuah perusahaan pembiayaan retail. 

Klop !, Film ini semacam "Hidden Marketing" dari perusahaan retail pembiayaan dari Jogyakarya tadi yang notabene sebagai sponsor tunggal dari produksi film DEBT ini. Tak jadi masalah, tetapi  salah satu nilai yang didapat dari film ini yaitu, tentang "Berbagi" antar sesama manusia dengan dan tanpa tendensius apapun, naluri dan alamiah saja sebagai mahluk sosial. Hal ini yang ingin ditekankan dalam film ini ,  bahwa manusia dalam hidupnya pasti memiliki masalah yang berbeda-beda tergantung bagaimana kedewasaan dan kearifannya  dalam me-maintenance masalah tersebut.

Screening film DEBT ini diawali dengan film pembuka karya Ismal N dari SundayScreen Bandung bertajuk "NeverMind". Apabila dikaitkan sebenarnya kedua film ini memiliki visi yang sama tentang "berbagi" hanya dalam koridor penyampaiannya saja berbeda, tapi hakikatnya mengenai hubungan sosial antar manusia. Semoga film ini menjadi cambuk sekaligus pelecut etos berbagi dalam konteks apapun yang dewasa ini sudah sangat minim terjadi apalagi dikota-kota besar seperti Bandung dan Jogyakarta.


Persentasi Marketing (by frankazoid)


Pamali 2 louncing diBaca-baca

feb 2010 | frans ari prasetyo


Launcing buku Pamali 2 karangan Norvan Pecandupagi (kanan) 


Buku Pamali 2 kembali terbit setelah menunggu kurang lebih selama 4 bulan dari peluncuran Buku pamali 1.Apablia sebelumnya pada louncing Pamali 1 berlangsung di sebuah pusat keramaian Jakarta, maka kali ini ini sesuai permintaan Kak Norvan selaku penulis/pengasuh dalam buku Pamali ini berlangsung disebuah alternatif space yang selama ini menjadi destinasi Kak Norvan dalam proses berkaryanya, yaitu BacaBaca Bookmart/Perpustakaan.yang jauh dari keramaian pusat kota Bandung, tepatnya di Studio2 Jeihan , Padasuka Bandung dan acara yang berlangsung pada hari selasa tanggal 16 Feb 2010 yang notabene hari aktif. Ini merupakan event pertama BacaBaca Bookmart di tempatnya yang baru setelah "terusir" dari Sabuga diawal tahun 2010.

Pamali ! ada apa dengan kata ini ? dan kenapa orang seperti Kak Norvan sangat antusias membukukannya ?, ternyata terdapat hal yang menarik dari Pamali itu sendiri. Pamali sebenarnya sebuah "mitos pantangan" yang diturunkan secara oralis dari nenek moyang kegenerasi selanjutnya untuk terus dilestarikan keberadannya walaupun seiring perkembangan jaman , terdapat beberapa yang ternyata sudah tidak relevan lagi.

Pamali ini berkembang dalam kultur masyarakat indonesia dan dalam ranah Sunda konteks pamali ini berakar cukup kuat, mungkin karena Kak Norvan sendiri tinggal dilingkungan berkurtur sunda sehingga Pamali 1 dan 2 banyak didominasi oleh Pamali dalam kultur Sunda , tapi sudahlah mungkin ini menjadi bahan masukan untuk Kak Norvan dalam mengexplorasi khasanah Pamali dalam cakupan yang lebih luas - Indonesia.

Buku pamali 1 dan 2 yang dikemas dalam wujud komik dengan plesetan dari kontent pamalinya itu sendiri yang ditafsirkan secara liar oleh Kak Norvan dengan tanpa mengurangi nilai ke-mitos-an dari pamalinya itu sendiri. Acara yang cenderung privat ini hanya dihadiri oleh teaman-teman dekat dari Kak Norvan dan Baca-baca, ini sesuai harapan begitu katanya disela-sela oblolan ringan yang dipandu oleh Onjel (penulis buku bad religion) dan Pa Bagus selaku pengamat buku, sebelumnya acara dimulai dengan pembukaan dari Karinding Attack - sebuah kelompok musik performance yang menggunakan alat-alat musik sunda "purba" yang terancam punah mulai kembali dimunculkan, seperti Karinding dan Celempung. 


Karinding Attack dalam launcing pamali2 dibaca-baca (frans)

Acara yang berlangsung pada hari selasa, menimbulkan banyak pertanyaan dari kawan-kawan yang tidak bisa hadir karena ini merupakan hari aktif. Ini merupakan candaaan yang coba dikaitkaitkan , Kenapa hari selasa?  mungkin ini bagian dari pamali itu sendiri yang mengharuskan louncingnya dihari Selasa, karena hari yang lain Pamali .Keberadaan Buku Pamali 2, mencoba mengulang kesukssesan Buku pamali 1 dari segi bisnis karena menjadi salah satu Bestseller walaupun secara moral, Kak norvan hanya ingin membagi coretan2 tangannya kepada publik sebagai eksistensinya sebagai komikus. Buku yang menjadi salah satu penawar dahaga dari kelesuan dan minimnya buku-buku komik yang diterbitkan di Indonesia. Semoga ini menjadi peletup para komikus lainnya untuk terus berkarya komik dan menerbitkannya.

Selasa, 08 Maret 2011

BALIBO

des 2009 | frans ari prasetyo

movie screening "Balibo" di Gd. Indonesia Menggugat (by frankazoid)


BALIBO ! Sebuah film yang sejatinya akan ditayangkan pada acara pembukaan Jakarta International Film Festival, tiba-tiba dibatalkan karena adanya pelarangan tayang oleh LSF Indonesia, dengan alasan yang menurut mereka hanya akan mengingatkan pada "LUKA" lama ! Tapi pelarangan ini menjadi sebuah bola salju yang terus bergulir, sehingga banyak publik yang "penasaran" akan film BALIBO ini.

Diprakarsai oleh AJI (Aliansi Jurnalist Independent) , maka publik Bandung dapat menikmati film BALIBO ini secara gratis pada tanggal 8 Des 2009 di Gedung Indonesia Menggugat. Sebelum pemutaran film dimulai , terdapat sebuah aksi pengumpulan "KOIN untuk PRITA Mulyasari" yang divonis untuk membayar ganti rugi Rp204juta kepada RS. Omni Internasional akibat keluhkesahnya didunia maya.

Film pun bergulir kurang lebih selama 1.5 jam dengan setting Timor Leste tahun 1975 menceritakan keadaan waktu itu dengan sisi jurnalistik yang kental , baik dari aktornya maupun proses penginvestigasiannya, dan apa yang terjadi?, memang film yang sungguh dramatis disisi kemanusiaan, sungguh kontroversial dari segi politik,dan sangat dokumentatif  secara jurnalistik, walaupun pembuat film (Robert Connelly) ini tidak mau menyebutkan bahwa film Balibo ini adalah "film Dokumenter"  tetapi film yang berdasarkan "Kisah Nyata" , selain itu ditambah dengan kekuatan sinematografi yang mumpuni membuat film ini akan menjadi  pembicaraan hangat dikalangan kritikus per-filman. Balibo adalah sebuah wilayah dekat perbatasan antara Timor Leste dan Indonesia yang menjadi  garis depan "konflik" yang terjadi disana dan benang merah dari film ini. 

Menonton Balibo ini, bagi saya pribadi seperti menonton perpaduan film Tears of The Sun-nya Bruce Willis, yang berpadu dengan  CHE dan HOTEL RWANDA, banyak aspek kemiripan penokohan, cerita dan settingnya, tapi sudahlah biarkan audience menyimaknya dengan pandangannya masing-masing secara arif dan dewasa.

Setelah film BALIBO ini , selesai terdapat sesi diskusi yang dimoderatori oleh Aat Suratin dengan menampilkan Kiki Syahnakri (dari pihak militer yang pada waktu itu berdinas diKodam Udayana, sekarang menjabat Wakasad), lalu  Banyu Prawita (pengamat Hubungan Internasional dari UNPAR) dan terakhir Bob Howard (Jurnalist Australia yang menjadi dosen tamu di UNPAD).

Pembicaraan dimulai dari Kiki Syahnakri yang menceritakan posisi beliau pada waktu itu dan beberapa hal yang ada kaitannya dengan Timor Leste. Beliau memaparkan bahwa di Timor Leste pada waktu itu terdapat 3 partai , yaitu : 1. UDT (didukung oleh mayoritas massa dan gereja) , 2. Fretilin (didukung oleh militer), 3. Apodeti (didukung oleh raja lokal,yaitu Raja Atsabe dan Ainaro). UDT dan Fretilin mempunyai orientasi Merdeka sedangkan Apodeti memilih integrasi dengan Indonesia. Konflik antar partai sampai merembes kewilayah massa sehingga pertengahan tahun "75 terjadinya konflik internal antar sesama rakyat timor, akhirnya UDT bergabung dengan Apodeti dengan merubah orientasi menjadi Integrasi dengan Indonesia walaupun dengan berbagai syarat tentunya. Belum lagi ditambah dengan proses dokolonisasi oleh Portugis di Timor leste, membuat konflik yang terjadi menjadi konsumsi internasional dan diperkuat oleh ketengangan dunia dengan "perang dingin".

Aaat Soeratin - Kiki Syahnakri - Banyu Prawita - Bob Howard
(dari kiri ke kanan by frankazoid)

Sedangkan Banyu Prawita, melihat ini dari sudut hubungan internasional dimana kejadian di Timor Leste merupakan bagian dari rembesan ketengagan dunia akibat perang dingin yang pada pertengahan tahun 70-an sedang dalam puncaknya, sehingga beliau mengeluarkan statement "War is product of political Tension" dan ini terjadi juga diwilayah yang sekarang sedang dibahas "BALIBO" Bob Howard melihat film ini dari segi jurnalistik dimana  mulai aspek peliputan sampai keamanan seorang jurnalist , menurut beliau ketika film ini diputar di australia, banyak jurnalilst Australia justru kecewa dengan negaranya, kenapa Australia tidak melakukan sesuatu terhadap para jurnalis yang tergambarkan di film ini ?

Terlepas dari semuanya, terdapat statement yang menarik menurut saya menarik yang saya ambil dari salah satu adegan di film,  "Mengapa Indonesia menginvasi mereka dan Mengapa Portugis tidak membantu mereka ?", tapi sudahlah ketika film ini direleased kepada publik dimana posisi pembuatnya telah "Mati" dan biarkan pembaca "menafsirkannya". Banyak pelajaran dan makna yang dapat diambil dari film Balibo, ini salah satunya diwilayah jurnalistik dan filmografi , mungkin sudah saatnya Indonesia memiliki lebih banyak jurnalist dan film maker yang berani mengangkat hal-hal yang selama ini menjadi "sandungan" dalam pemetaan sejarah indonesia untuk diangkat secara komprehensif dari hasil riset dan investigasi yang dapat dipertanggungjawabkan , sehingga kajian tentang negeri tergambarkan sebenar-benarnya. Sulit memang, membutuhkan keberanian dan konsistensi luarbiasa disertai dengan konsekuensi yang menyertainya,masa sejarah negeri ini diangkat oleh pihak asing........kan lebih baik jika diangkat oleh bangsanya sendiri ! apa kata dunia !

Saya hanya berharap tidak adanya perang dan tidak adanya kepentingan pihak tertentu yang mengkebiri hak hak kemanusiaan seseorang yang sejatinya merupakan anugrah dari tuhan, semoga dunia damai, semoga saja ! 

VIDEO : Indonesia - Berlin & Beyond

nov 2009 | frans ari prasetyo


Buku karya Krisna Murti

Pada kesempatan kali ini kta disuguhkan oleh wacana Video dan Videolab sebagai sebuah kelompok yang aktiv dan concern pada wilayah ini mencoba menyuguhkan sebuah pertemuan atau konferensi kalau boleh saya sebut begitu karena acaranya berlangsung selama 3 hari dan melibatkan orang orang yang memiliki kompetensi dibidang video. Ada juga beberapa video karya Krisna Murti and Kathrin Becker yang ditampilkan di  Gallery Soemardja ITB, Bandung. 
SESSION  3 NOV 2009
Sesi 1
Pada sesi ini menampilkan Kathrin Becker (germany), sebagai pembicara ditemani oleh Deden Durachman sebagai moderator disini membicarakan tentangVideoArt & Berlin and Beyond. Juga ditampilkan selected video dari para seniman video dari Berlin seperti : Markc Aschenbrenner, Elise Florenty, Ninon Liotet/Oliver Schulbaum, Michel de Broin, Ina Wudtke, Annika Eriksson dan Corina  Schnitt.

Sesi 2 
Pada sesi  ini terdapat persentasi oleh Krisna Murti yang selama ini kita kenal sebagai seniman video dan orang yang concern pada perkembangan video art. Beliau memaparkan tentang “Essay on Video Art and New Media  Indonesia and Beyond) yang dipandu oleh Aminuddin TH Siregar serta pembicara lain oleh Prof. Bambang Sugiharto. Pada kesempatani ini juga diluncurkan buku yang ditulis oleh Krisna Murti.

SESSION  4 NOV 2009
Sesi 1
Pada sesi ini menampilkan Kathrin Becker (germany), sebagai pembicara ditemani oleh Heru Hikayat membicaratan tentang “A sense of History” serta ditampilkannya video works dari n.b.k Video Forum dengan issue seperti :
TV as a creative Medium ? About the interference of video art and TV

2. Sesi 2
Pada sesi ini menampilkan Kathrin Becker (germany), sebagai pembicara ditemani oleh Deden Durahman disertai dengan  screening video denga issue :
Video Performance : Relation between Body, Media & Space
Female Trouble : Video and feminist practice
Hi and Low : Video Reflecting the Media

Selain acara di auditorium galery soemardja  terdapat pula screening video di Mini Art Space di luarnya, screening ini berlangsung continue selama 3hari pertemuan ini berlangsung.dengan karya sebagai berikut :

3 Nov2009: Picturing Places Around The World, melibatkan beberapa karya  tentang dan dari Hamburg (germany), Mexico, Romania, Jerusalem, Berlin dan lain-lain
4 Nov 2009 menampilkan special  single DVD from Fischli/Weis 
5 Nov 2009 menampilkan special  single DVD from Joseph Beuys



Diskusi dan Peluncuran Buku Video Art Karya Krisna Murti
(by frankazoid)